Bank Dunia: Dampak Ekonomi Brexit Tak Hanya Pukul Inggris dan Uni Eropa

Kompas.com - 09/01/2019, 10:30 WIB
Perdana Menteri Inggris Theresa May (kiri) memberikan keterangan pers bersama Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker. Inggris dan Uni Eropa (UE) akhirnya menyepakati poin dalam fase pertama proses perceraian Inggris dari UE (Brexit). (8/12/2017) Emmanuel DUNAND/AFPPerdana Menteri Inggris Theresa May (kiri) memberikan keterangan pers bersama Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker. Inggris dan Uni Eropa (UE) akhirnya menyepakati poin dalam fase pertama proses perceraian Inggris dari UE (Brexit). (8/12/2017)

WASHINGTON, KOMPAS.com - Alotnya perundingan terkait keluarnya Inggris dari Uni Eropa alias Brexit diprediksi memberikan dampak ekonomi, tak hanya ke negara-negara kawasan Eropa. Dampak ekonomi Brexit pun diprediksi akan terasa hingga ke negara-negara di Afrika Utara.

Hal tersebut diungkapkan oleh Bank Dunia. Dikutip dari The Guardian, Rabu (9/1/2019), dalam laporan terbarunya, Bank Dunia menyatakan negara-negara Eropa Timur seperti Belarus dan Ukraina, serta negara-negara Mediterania termasuk Turki, Mesir, dan Maroko akan turut terpukul jika negosiasi Brexit antara Inggris dan Uni Eropa buntu.

Hal ini khususnya terkait sektor perdagangan. Negara-negara yang banyak melakukan perdagangan dengan Inggris dan Uni Eropa, kata Bank Dunia, akan turut menelan pil pahit Brexit yang tak berjalan mulus.

"Brexit tanpa kesepakatan adalah risiko bagi Inggris, Uni Eropa dan setiap wilayah yang banyak berdagang dengan mereka. Ini berarti negara-negara di Eropa timur seperti Moldova, Georgia hingga Afrika Utara akan terpengaruh," kata penulis laporan Bank Dunia tersebut, Franziska Ohnsorge.

Laporan terkait dampak Brexit tersebut dirilis sejalan proyeksi terbaru Bank Dunia tentang perlambatan ekonomi global pada tahun 2019. Sebagian besar disebabkan melambatnya pertumbuhan di negara-negara maju.

Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global turun menjadi 2,9 persen pada tahun 2019 dan 2,8 persen pada 2020. Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi 3 persen pada laporan terakhir Bank Dunia tahun lalu.

Pada Juni 2018, Bank Dunia pun sempat memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2019 mencapai 3,1 persen.

Bank Dunia dalam laporan teranyarnya juga memperingatkan ada prospek yang kian "gelap," tak hanya berasal dari Brexit yang buntu, namun juga dari perang dagang antara AS dan China dan meningkatnya ketegangan politik.

 

 

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Keukeuh Minta Kenaikan Upah, KSPI Bandingkan dengan Zaman Habibie

Keukeuh Minta Kenaikan Upah, KSPI Bandingkan dengan Zaman Habibie

Whats New
DPR: Kunjungan PM Jepang Harus Bisa Dimanfaatkan Pengusaha Nasional

DPR: Kunjungan PM Jepang Harus Bisa Dimanfaatkan Pengusaha Nasional

Whats New
PGN Pastikan Pengerjaan Pembangunan Pipa Rokan Selesai Tepat Waktu

PGN Pastikan Pengerjaan Pembangunan Pipa Rokan Selesai Tepat Waktu

Rilis
Jika Tak Ada Penemuan Baru, Minyak Bumi Indonesia Akan Habis dalam 9 Tahun

Jika Tak Ada Penemuan Baru, Minyak Bumi Indonesia Akan Habis dalam 9 Tahun

Whats New
Soal UU Cipta Kerja, KSPI: Mudah-mudahan DPR Tidak 'Kucing-kucingan' Lagi...

Soal UU Cipta Kerja, KSPI: Mudah-mudahan DPR Tidak "Kucing-kucingan" Lagi...

Whats New
Efisiensi Anggaran Proyek Pipa Minyak Blok Rokan Capai Rp 2,1 Triliun

Efisiensi Anggaran Proyek Pipa Minyak Blok Rokan Capai Rp 2,1 Triliun

Rilis
Pengetahuan Teknologi hingga Internet jadi Persoalan Digitalisasi UMKM

Pengetahuan Teknologi hingga Internet jadi Persoalan Digitalisasi UMKM

Whats New
Sri Mulyani Sebut Pemerintah Bakal Dukung Pembiayaan Startup, Ini Penjelasannya

Sri Mulyani Sebut Pemerintah Bakal Dukung Pembiayaan Startup, Ini Penjelasannya

Whats New
Ekonom: Sektor riil Paling Belum Siap Hadapi Digitalisasi

Ekonom: Sektor riil Paling Belum Siap Hadapi Digitalisasi

Whats New
Turun Signifikan dalam Beberapa Pekan, Saham IKAN Masuk Pengawasan Bursa

Turun Signifikan dalam Beberapa Pekan, Saham IKAN Masuk Pengawasan Bursa

Rilis
BI: Sistem Pembayaran Digital Berperan Penting dalam Pemulihan Ekonomi

BI: Sistem Pembayaran Digital Berperan Penting dalam Pemulihan Ekonomi

Whats New
Penjualan Emas Antam Melonjak 147 Persen pada Kuartal III-2020

Penjualan Emas Antam Melonjak 147 Persen pada Kuartal III-2020

Whats New
Sri Mulyani Soroti Ketimpangan Digitalisasi di Indonesia

Sri Mulyani Soroti Ketimpangan Digitalisasi di Indonesia

Whats New
Pansus KBN Tinjau Pelabuhan Marunda, KCN: Menunggu Rekomendasi Terbaik

Pansus KBN Tinjau Pelabuhan Marunda, KCN: Menunggu Rekomendasi Terbaik

Whats New
Ekonomi RI Bisa Pulih Cepat Dibandingkan Singapura dan AS, Mengapa?

Ekonomi RI Bisa Pulih Cepat Dibandingkan Singapura dan AS, Mengapa?

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X