EBITDA Turun, Freeport Tak Bagi Dividen Selama 2 Tahun

Kompas.com - 10/01/2019, 05:56 WIB
Suasana usai penandatanganan Sales and Purchase Agreement PT Inalum (Persero) dengan Freeport McMoran di Kementerian ESDM, Kamis (27/9/2018). Turut dalam kesepakatan ini Dirut Inalum Budi Gunadi Sadikin, CEO Freeport McMoran Richard Adkerson, Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA Suasana usai penandatanganan Sales and Purchase Agreement PT Inalum (Persero) dengan Freeport McMoran di Kementerian ESDM, Kamis (27/9/2018). Turut dalam kesepakatan ini Dirut Inalum Budi Gunadi Sadikin, CEO Freeport McMoran Richard Adkerson, Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

JAKARTA, KOMPAas.com - Direktur Utama PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum), Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, PT Freeport Indonesia tidak bakal membagi dividen selama kurun waktu dua tahun. Terhitung sejak 2019-2020.

Pasalnya, EBITDA atau pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi di Freeport dalam dua tahun ini bakal turun drastis. Hal ini terjadi karena terhentinya produksi di tambang terbuka Grasberg.

"Jadi kami nggak bakal bagi dividen selama dua tahun, nol sampai 2020," kata Budi seusai menghadiri diskusi "Kembalinya Freeport ke Indonesia, Antara Kepentingan Nasional dan Kepentingan Asing" di Gedung Kahmi Center, Jakarta, Rabu (9/1/2019).

Budi menuturkan, pendapatan dari produksi di tambang bawah tanah bakal mulai ada pada 2021. Nantinya, produksi diperkirakan baru sedikit dan mulai meningkat memasuki 2022 hingga stabil pada 2023 mendatang.

Pendapatan PT Freeport Indonesia diperkirakan akan kembali naik pada 2023 setelah dinilai tahun ini hingga 2020 turun. Karena EBITDA Freeport bakal merosot tahun ini dibandingkan sebelumnya, lantaran Grasberg Open Pit habis pada 2019 dan diganti dengan tambang bawah tanah.

Dalam keadaan stabil, perseroan bisa mendapat laba 2 miliar dolar AS per tahun. Bahkan revenue perusahaan akan mencapai 7 miliar dolar AS per tahun atau sekitar Rp 98 triliun per tahun (asumsi nilai tukar Rp 14.000 per dolar AS).

Nantinya, EBITDA perseroan dalam keadaan stabil bahkan mencapai 4 miliar dolar AS.

Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono menuturkan, EBITDA Freeport diperkirakan turun dari 4 miliar dolar AS menjadi hanya sebesar 1 miliar dolar AS tahun ini. 

Kendati demikian, Bambang mengatakan pendapatan Freeport turun bukan karena susutnya cadangan dan kadar barang tambang di sana. Tapi penurunan itu karena proses produksi di tambang bawah tanah (underground) Grasberg belum dimulai.

Jika nanti tambang bawah tanah sudah beroperasi, ia yakin dan optimistis pendapatan PT Freeport Indonesia akan mulai meningkat lagi.

"Sejak 2020 dan 2021 akan naik lagi sampai 2025. Nanti 2025 akan mulai stabil," sebut Bambang.




Close Ads X