Takut Kecolongan Inovasi Bikin Bukalapak Enggan IPO? - Kompas.com

Takut Kecolongan Inovasi Bikin Bukalapak Enggan IPO?

Kompas.com - 10/01/2019, 15:30 WIB
Co-Founder sekaligus Chief Finance Officer Bukalapak.com, Muhammad Fajrin Rasyid. Achmad Fauzi/Kompas.com Co-Founder sekaligus Chief Finance Officer Bukalapak.com, Muhammad Fajrin Rasyid.

JAKARTA, KOMPAS.com - Bukalapak belakangan santer dikabarkan akan segera melantai di bursa.

Ketika dikonfirmasi, President Bukalapak Fajrin Rasyid mengatakan, pihaknya masih mempertimbangkan banyak hal untuk melakukan penawaran umum perdana atau initial public offering ( IPO).

Salah satu hal yang menjadi pertimbangan, ujar Fajrin, adalah keterbukaan dari laporan keuangan yang secara detil harus dilakukan setiap kuartalnya ketika nanti sudah menjadi perusahaan tercatat. Selain itu juga keterbukaan atas keluar masuknya dana perusahaan.

Padahal menurutnya, sebagai sebuah perusahaan teknologi dengan perubahan serta inovasi yang begitu cepat, berbagai peraturan tersebut dirasa memberatkan.

Baca juga: Transaksi Tembus Rp 4 Triliun, Bukalapak Kaji Kemungkinan IPO

"Karena selama ini perusahaan tercatat (harus melaporkan kewajiban-kewajiban laporan keuangan dengan rinci), sementara dengan inovasi yang cepat sekali, jangan sampai inovasi ini diketahui banyak orang dan ditiru," ujar Fajrin ketika ditemui awak media dalam acara Ulangtahun ke-9 Bukalapak di Jakarta, Kamis (10/1/2019).

Walaupun demikian, Fajrin mengatakan, Bukalapak tidak menutup kemungkinan akan melakukan IPO meski tidak dalam waktu dekat. Fajrin mengaku, IPO belum masuk di dalam rencana bisnis perusahaan hingga saat ini.

Meski telah menyambangi Bursa Efek Indonesia (BEI), kala itu pihak perusahaan hanya memenuhi undangan otoritas yang ingin memberikan penjelasan mengenai proses aksi korporasi yang lebih mudah.

Baca juga: Bukalapak: Mendapatkan Dana Tidak Hanya Lewat IPO

Di sisi lain, Fajrin mengatakan, untuk mendapatkan suntikan dana segar, IPO bukan satu-satunya jalan.

"Mendapatkan dana itu tidak harus dengan IPO. Bisa melalui private financing, bisa dari obligasi, dan sebagainya," ujar Fajrin.



Close Ads X