Kualitas di Bawah Standar Produksi Jadi Alasan Indonesia Harus Impor

Kompas.com - 11/01/2019, 08:43 WIB
Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita dalam paparan kinerja dan outlook capaian 2019 di kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (10/1/2019). KOMPAS.com/AMBARANIE NADIAMenteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita dalam paparan kinerja dan outlook capaian 2019 di kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (10/1/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyebut ada sejumlah komoditas yang tak bisa dihindari untuk dilakukan impor. Meski tak banyak, bahan makanan juga menjadi salah satu penyumbang impor di Indonesia.

Hal ini disebabkan kualitasnya rendah sehingga tak bisa dimanfaatkan oleh industri dalam berproduksi. Dodol Garut, misalnya, jika tak menggunakan kualitas gula yang baik, maka rasanya tidak enak dan mudah rusak.

"Saya agak terganggu dengan dodol Garut, pilihannya harganya tinggi atau kualitasnya rendah. Kualitas gula ini rendah di dalam negeri," ujar Enggar di kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (10/1/2018).

Baca juga: Pemerintah Buka Keran Impor Jagung 30.000 Ton

Sementara itu, kata Enggar, kualitas gula dari luar lebih baik sehingga Kemendag membuka keran impor. Pilihan tersebut mau tak mau dilakukan karena kebutuhan industri di Indonesia.

Industri produsen makanan seperti Mayora, Wings, dan Indofood memiliki standar tersendiri soal kualitas bahan makanan, termasuk gula. Pemerintah sudah mendorong penggunaan gula dalam negeri, namun ternyata tak cukup kriterianya untuk kebutuhan industri.

Kualitasnya masih di bawah standar industri. Di sisi lain, banyak pabrik gula yang tutup karena kalah persaingan.

"Kita dari mana lagi kalau bukan impor. Jumlah produksi gula tidak cukup memenuhi kebutuhan produksi maupun konsumsi. Setidaknya 2,8 juta ton kebutuhan industri untuk 2019," kata Enggar.

Baca juga: PPh Naik, Impor Barang Konsumsi Hanya Turun 9,64 Persen

Selain itu, garam juga mengalami nasib yang sama. Pemerintah tak bisa merekomendasikan penggunaan garam yang memiliki kandungan Natrium Klorida (NaCl) yang rendah. Di beberapa dawrah, kata Enggar, bahkan garam sudah bercampur limbah karena dikeruk dari laut atau tambak yang terkontaminasi.

"Garam rakyat diolah, isinya busa semua. Kalau busanya masuk ke garam, infuse, mati kita," ujar Enggar.

"Masyarakat Indonesia juga semakin sadar kesehatan, gula dan garam harus baik," lanjut dia.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X