Ini 5 Strategi OJK Hadapi Risiko Finansial di Tahun 2019

Kompas.com - 12/01/2019, 14:42 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso saat memberi paparan kinerja OJK selama 2018 dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (11/1/2019). KOMPAS.com/AMBARANIE NADIAKetua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso saat memberi paparan kinerja OJK selama 2018 dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (11/1/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) memandang kinerja perekonomian pada 2018 secara keseluruhan membaik dibandingkan tahun sebelumnya.

Oleh karena itu, muncul optimisme bahwa pada tahun ini, kinerjanya semakin membaik dan menumbuhkan dampak positif bagi pasar dan industri keuangan. Meski begitu, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, masih ada risiko finansial yang patut diwaspadai, baik internal maupun eksternal.

"Di tengah optimisme masih ada downside risk. Kita harus tetap waspada," ujar Wimboh saat membuaka Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (11/1/2019) malam.

Baca juga: Gubernur BI Optimistis Risiko Perekonomian Global Tak Setinggi 2018

Secara garis besar, imbuh Wimboh, OJK akan mendukung pembiayaan sektor-sektor prioritas pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, pemberdayaan UMKM dan masyarakat kecil, mendorong inovasi teknologi informasi industri jasa keuangan, serta reformasi internal dalam pengaturan dan pengawasan sektor jasa keuangan.

Oleh karena itu, OJK menyusun strategi yang terfokus dalam lima poin untuk memitigasi risiko tersebut.

Pertama, OJK akan memperbesar alternatif pembiayaan jangka menengah dan panjang bagi sektor strategis, baik pemerintah dan swasta, melalui pengembangan pembiayaan dari pasar modal.

OJK akan mendorong, memfasilitasi, dan memberikan insentif kepada calon emiten melalui penerbitan efek berbasis utang atau syariah, Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT), Efek Beragun Aset (EBA), Dana Investasi Real Estate (DIRE), Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA), instrumen derivatif berupa Indonesia Goverment Bond Futures (IGBF), Medium-Term-Notes (MTN), dan pengembangan produk investasi berbasis syariah, di antaranya Sukuk Wakaf.

Selain itu, OJK juga mendorong realisasi program keuangan berkelanjutan dan blended finance untuk proyek-proyek ramah lingkungan dan sosial.

Baca juga: 2019, Penerbitan Sukuk Berbasis Proyek Naik Jadi Rp 28,4 Triliun

Kedua, OJK mendorong lembaga jasa keuangan meningkatkan kontribusi pembiayaan kepada sektor prioritas seperti industri ekspor, substitusi impor, pariwisata maupun sektor perumahan. OJK mendorong realisasi program Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata bekerja sama dengan instansi terkait.

Ketiga, OJK berupaya memperluas penyediaan akses keuangan bagi UMKM dan masyarakat kecil di daerah terpencil yang belum terjangkau lembaga keuangan formal. OJK akan meningkatkan kerja sama dengan lembaga dan instansi terkait, antara lain dalam rangka memfasilitasi penyaluran KUR dengan target Rp 140 triliun, khususnya dengan skema klaster bagi UMKM di sektor pariwisata dan ekspor.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X