"Shutdown" Pemerintah AS, Ratusan Ribu Pegawai Pemerintah Tak Digaji

Kompas.com - 12/01/2019, 15:09 WIB
Serikat pekerja menggelar unjuk rasa di depan Gedung Putih, Washington DC, pada Kamis (10/1/2019), menuntut pemerintah segera mengakhiri shutdown.AFP / NICHOLAS KAMM Serikat pekerja menggelar unjuk rasa di depan Gedung Putih, Washington DC, pada Kamis (10/1/2019), menuntut pemerintah segera mengakhiri shutdown.

WASHINGTON, KOMPAS.com - Ratusan ribu pegawai di lingkungan pemerintah AS terlambat menerima gaji. Ini adalah imbas dari shutdown atau berhentinya kegiatan pemerintahan di AS.

Dikutip dari BBC, Sabtu (12/1/2019), para pegawai seperti sipir penjara, staf di bandara, dan para agen Biro Investigasi Federal (FBI) bekerja tanpa digaji akibat shutdown.

Pada hari ini, shutdown telah berlangsung selama 22 hari. Ini adalah shutdown pemerintah paling lama sepanjang sejarah AS.

Presiden Donald Trump menolak untuk menyetujui anggaran federal kecuali di dalam anggaran tersebut disertakan pembiayaan pembangunan tembok perbatasan. Namun, Partai Demokrat menolak pengajuan anggaran untk tembok perbatasan, yakni sebesar 5,7 miliar dollar AS.

Baca juga: Terdampak Shutdown, Pegawai Pemerintah AS Ramai Galang Dana di Internet

Sekira seperempat kegiatan pemerintahan AS tidak beroperasi sampai rencana belanja tersebut disetujui. Akibatnya, sebanyak 800.000 pekerja tidak digaji.

Pada Jumat (11/1/2019), para pegawai tersebut melewatkan hari gajian mereka karena shutdown. Beberapa di antaranya mengunggah foto slip gaji kosong di media sosial.

Oscar Murillo, seorang insiyur ruang angkasa di NASA, misalnya, mengunggah foto slip gajinya yang tertera angka 0 dollar AS di akun Twitter pribadinya. Adapun pengguna Twitter bernama Cat Heifner, mengunggah foto slip gaji saudara laki-lakinya, yang tertera angka 1 sen untuk gajinya sebagai petugas air traffic controller (ATC) di bandara.

Baca juga: Shutdown Era Trump Jadi yang Terpanjang dalam Sejarah AS

Dari 800.000 orang pegawai federal yang tidak digaji, sekitar 350.000 orang di antaranya berstatus dirumahkan sementara. Adapun sisanya tetap bekerja.

Ribuan pegawai pun dikabarkan mengajukan aplikasi manfaat pengangguran lantaran ketidakpastian finansial. Pada akhir pekan ini, Bandara Internasional Miami akan ditutup lantaran banyak staf keamanannya tak bisa bekerja karena sakit.



Close Ads X