Defisit Neraca Perdagangan Tembus Rekor Bukan Hanya karena Migas

Kompas.com - 16/01/2019, 13:02 WIB
Chatib Basri usai menjadi pembicara pada acara Disruptif Ekonomi Digital di Ritz Carlton, Jakarta, Senin (5/1/2018).KOMPAS.com/ PRAMDIA ARHANDO JULIANTO Chatib Basri usai menjadi pembicara pada acara Disruptif Ekonomi Digital di Ritz Carlton, Jakarta, Senin (5/1/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom senior Chatib Basri mengatakan, defisit neraca perdagangan yang mencapai 8,57 miliar dollar AS sepanjang 2018 bukan hanya dikarenakan defisit sektor migas.

Mantan Menteri Keuangan ini menjelaskan, penurunan surplus non migas yang sangay signifikan dari 20,4 miliar dollar AS di 2017 menjadi tinggal 3,8 miliar dollar AS di 2018 justru yang diperhatikan. Sebab, penurunan surplus non-migas yang mencapai 16,6 miliar dollar AS ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan defisit migas yang cenderung kecil, yaitu 3,9 miliar dollar AS.

"Kepala BPS dan media menulis bahwa sumber utamanya adalah defisit migas. secara nominal defisit migas tahun 2018 mencapai 12.4 miliar dollar AS sedangkan non migas mengalami surplus 3.8 miliar dollar AS. Sekilas kita melihat migas lah penyebabnya. Namun saya setuju dengan rekan dan guru saya di FEUI dulu @FaisalBasri, yang juga harus diperhatikan adalah non migas," ujar Chatib seperti dikutip dari laman twitternya, Rabu (16/1/2019).

Berdasarkan analisisnya, meski pertumbuhan impor migas lebih besar dari non migas namun pertumbuhan ekspornya juga lebih besar dari non migas. Sebesar 90 persen impor non-migas tersebut merupakan impor barang produktif bukan konsumsi.

Chatib pun mempertanyakan, mengapa impor barang modal dan bahan baku naik terus namun pertumbuhan ekonomi tetap stagnan di 5 persen?

"Soal waktu kah? Krn ada senjang waktu dlm proses produksi? Atau inefisiensi?" ujar dia.

Chatib Basri menekankan pentingnya meningkatkan produktifitas dengan reformasi ekonomi di sektor riil. Menurutnya, tanpa adanya reformasi Indonesia akan terus terperangkap. Yang paling berbahaya, menurutnya, walau dengan impor brg modal dan bahan baku yang tinggi, pertumbuhan nyaris tidak bergerak.

"Ini bisa disebabkan oleh 2 hal: kita banyak sekali mengimpor barang modal dan bahan baku (untuk infrastruktur dsb) yg belum memberikan hasil (karena butuh waktu), atau memang produktifitas kita rendah? Dan inilah issue terbesar kita: produktifitas," ujar dia.




Close Ads X