Soal Defisit, Timses Sebut Jokowi Tahu Apa yang Harus Dibenahi

Kompas.com - 16/01/2019, 20:12 WIB
Presiden Joko Widodo memborong sejumlah dagangan ibu-ibu penerima program PNM Mekaar di Ciracas, Jakarta Timur, Kamis (10/1/2019). Fabian Januarius KuwadoPresiden Joko Widodo memborong sejumlah dagangan ibu-ibu penerima program PNM Mekaar di Ciracas, Jakarta Timur, Kamis (10/1/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com -  Juru bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Mar'uf Amin, Arief  Budimanta, mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi menyusul defisit neraca perdagangan.

Pada 2018, neraca perdagangan mengalami defisit mencapai 8,57 miliar dollar AS. Angka ini merupakan yang defisit terbesar yang pernah tercatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

"Presiden Jokowi itu kan orang biasa, pengusaha yang juga kelasnya kecil dan menengah, dan dia tahu betul (apa yang harus dilakukan)," ujarnya dalam acara diskusi bisnis PAS FM di Jakarta, Rabu (16/1/2019).

"Mulai dari merintis usaha, dari perizianan, mulai dari cari kredit, sampai menembus ekspor tanpa fasilitas dan kekuasaan yang ada. jadi dia memahamai betul lingkungan dan persaingan," sambung dia.

Baca juga: Defisit Neraca Perdagangan Pecahkan Rekor, Kondisi Ekonomi RI Rentan

Oleh karena itu kata Arief, Presiden Jokowi selalu menjadikan peningkatan daya saing menjadi satu prioritas. Hal ini penting agar barang-barang ekspor Indonesia juga bisa bersaing di dunia.

Seperti dberitakan, defisit neraca dagang terjadi akibat nilai ekspor yang lebih rendah dari nilai impor. Sehingga, upaya untuk menggenjot ekspor penting untuk dilakukan.

"PR kita memang banyak ya, banyak banget.  Defisit-defisit tadi kalau dalam konteks transkasi berjalan itu kan bukan 15 atau 20 tahun, tetapi kalau bicara neraca jasa saja, itu sudah terjadi dari tahun 70-an ya," kata dia.

"Jadi defisit tadi itu ya harus segara  dikerjakan, dicicil pekerjaan rumah itu masing-masing," sambung Arief.

Sebelumnya, Tim ekonomi Prabowo-Sandiaga Uno, Anthony Budiawan menilai kondisi ekonomi Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Jokowi sangat mengkhawatirkan.

Hal itu mengacu kepada defisit neraca perdagangan dan transaski berjalan yang mencapai rekor terburuk.

Sepanjang 2018, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit mencapai 8,57 miliar dollar AS. Angka ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia pasca kemerdekaan.

Perdagangan non migas hanya surplus 3,8 miliar dollar AS. Sementara neraca dagang migas justru defisit 12,4 miliar dollar AS.

"Jadi kebijakan (pemerintahan Jokowi) yang saat ini seolah tidak jalan semua. Apa itu yang meningkatkan ekspor atau menekan impor. Ini tidak berjalan semua termasuk kebijakan  B20 belum berjalan," kata dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.