Harga Saham-saham Grup Bakrie Melonjak, Apa Penyebabnya?

Kompas.com - 21/01/2019, 08:47 WIB
Pekerja mengepel lantai di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (19/9). Perdagangan IHSG ditutup pada zona hijau atau menguat 61,81 poin atau 1,06 ke level 5.873,60 meski beberapa waktu lalu tertekan di zona merah sebagai imbas dari neraca perdagangan yang defisit sebesar 1,02 miliar Dolar AS pada Agustus 2018.ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN Pekerja mengepel lantai di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (19/9). Perdagangan IHSG ditutup pada zona hijau atau menguat 61,81 poin atau 1,06 ke level 5.873,60 meski beberapa waktu lalu tertekan di zona merah sebagai imbas dari neraca perdagangan yang defisit sebesar 1,02 miliar Dolar AS pada Agustus 2018.

JAKARTA, KOMPAS.com - Beberapa saham Bakrie Group menunjukkan penguatan fantastis di awal 2019. Di antaranya PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, ada beberapa hal yang mempengaruhi saham saham emiten tersebut menguat di sepanjang tahun. Khusus untuk saham BUMI, Hans menilai sentimen utamanya adalah kenaikan harga batu bara.

"Saat harga batu bara naik, saham BUMI juga naik. Ditambah lagi, saat batu bara naik di tahun lalu, saham BUMI juga belum banyak bergerak, jadi sekarang wakturnya," katanya seperti dilansir Kontan, Minggu (20/1/2019).

Hans mengaku belum mengetahui sentimen khusus yang mendorong saham saham Bakrie Groups naik. Khususnya, Hans menyebut, pasar tengah mengumpulkan beberapa saham Bakrie Group seperti BUMI, ENRG dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).

Baca juga: Bakrie & Brothers Tunda RUPSLB, Ini Alasannya

Pada perdagangan Jumat (18/1/2019), saham BUMI menguat 68,93 persen dan ditutup pada harga Rp 174 . Sementara ENRG melonjak 62 persen ke Rp 8. Begitu juga saham BRMS yang menguat 20 persen ytd ke harga Rp 60 per saham.

Adapun faktor lain yang turut mendorong beberapa saham Bakrie Group menguat di awal tahun, yakni kondisi pasar modal yang cenderung positif. Utamanya didukung pernyataan Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell yang menyatakan belum akan agresif menaikkan suku bunga acuan.

"Selain itu, Bakrie Group sedang restrukturisasi jadi kemungkinan potensi mereka naik masih terbuka," ujarnya.

Melihat potensi kenaikan di awal, Hans merekomendasikan investor untuk membeli saham saham Bakrie Group tersebut, terutama untuk BUMI dan BRMS. Sedangkan untuk bisnis media seperti PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) sebaiknya hindari dulu.

"Untuk BUMI, target harga long term bisa mencapai Rp 500," sebutnya.

Sementara Analis Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy mengatakan, kenaikan harga saham BUMI terbantu oleh sentimen impor batu bara oleh China.

"Ekspektasi akan kembali meningkatnya impor batubara dari China tahun ini, membuat BUMI berpotensi menerima manfaat positif," kata Robertus.

Apalagi sebut dia, produksi batu bara China saat ini tengah terganggu akibat adanya kecelakaan kerja yang baru terjadi. Ditambah lagi, sebagian ekspor batu bara BUMI, banyak dikonsumsi oleh pembeli dari China.

"Mengingat, China Investment Corporation (CIC) dan China Development Bank (CDB) saat ini tercatat sebagai investor BUMI, maka perseroan dianggap memiliki akses pasar yang besar di negeri tirai bambu tersebut," jelasnya.

Dengan prospek tersebut, Robertus merekomendasikan investor untuk bisa membeli saham BUMI dari sekarang, dengan target harga jangka panjang Rp 250. (Intan Nirmala Sari)

Berita ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Saham perusahaan Grup Bakrie melonjak, begini rekomendasi analis




Sumber

Close Ads X