Nguyen Thi Phuong, Miliarder Wanita Pemilik Maskapai Pramugari Berbikini

Kompas.com - 21/01/2019, 16:47 WIB
Nguyen Thi Phuong ThaoKhoa H?c L?ch S? Nguyen Thi Phuong Thao

JAKARTA, KOMPAS.com - Maskapai asal Vietnam, VietJet Air akan mengudara di langit Indonesia mulai Maret 2019. Nantinya, maskapai itu akan melayani rute Ho Chi Minh-Denpasar, Bali dan pada akhir 2019, rute Ho Chi Minh-Jakarta juga akan dibuka.

Maskapai yang terkenal dengan pramugari berbusana bikini itu dimiliki oleh Nguyen Thi Phuong Tao. Nguyen merupakan wanita asal Asia Tenggara yang masuk daftar orang terkaya versi Forbes. Tahun 2018 dia berada di posisi 766 dengan kekayaan 3,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 44 triliun (kurs Rp 14.200 per dolar AS).

Namun mengutip Forbes, Senin (21/1/2019), kekayaan Nguyen saat ini diestimasikan mencapai 2,3 miliar miliar dollar AS atau setara dengan Rp 32.66 triliun.

Nguyen merupakan satu dari empat orang terkaya di Vietnam yang masuk daftar Forbes The World's Billionaires tahun 2018. Dia juga masuk dalam daftar Wanita Perkasa 2018 dari Forbes di posisi 44.

Baca juga: Maret 2019, Maskapai Pramugari Berbikini asal Vietnam Terbangi Indonesia

Nguyen meluncurkan VietJet, maskapai penerbangan murah pertama di Vietnam pada Desember 2011. Saat itu, ia bersumpah bahwa ia akan mendisrupsi industri penerbangan Vietnam yang kala itu didominasi maskapai penerbangan nasional milik negara.

Namun, siapa sangka lima tahun kemudian, VietJet mengoperasikan lebih dari 40 persen penerbangan di Vietnam dan memperoleh pendapatan mencapai 1,2 miliar dollar AS.

Pada Februari 2017, VietJet juga melantai di bursa saham Vietnam. Kesuksesan VietJet membawa Nguyen menjadi satu-satunya miliarder wanita di Asia Tenggara.

Tak hanya itu, Nguyen juga merupakan satu dari dua orang terkaya di Vietnam. Nguyen pun merupakan satu dari 56 orang wanita yang masuk dalam daftar 2017 Forbes World's Billionaires yang merintis kekayaannya hingga menjadi miliarder. Separuh dari 56 orang itu berasal dari Asia.

Nguyen memperoleh ide untuk mendirikan maskapai berbiaya rendah di Vietnam ketika dirinya masih menjadi trader. Ia memprediksi, permintaan perjalanan udara di tanah kelahirannya akan meningkat.

"Saya selalu memiliki tujuan besar dan menciptakan kerja sama besar. Saya tidak pernah melakukan sesuatu dalam skala kecil. Ketika orang-orang berdagang satu kontainer barang, saya sudah ratusan kontainer," ujar Nguyen.

Nguyen kemudian mempelajari model bisnis yang dilakukan maskapai berbiaya rendah lainnya, seperti Southwest, Ryan Air, dan AirAsia. Ia memperoleh lisensi untuk memulai VietJet pada tahun 2007, namun tingginya harga minyak membuat peluncuran maskapai itu harus ditunda.

Tahun 2010, ia sempat meneken kerja sama patungan dengan AirAsia, namun gagal. Akhirnya, setahun kemudian Nguyen memutuskan untuk mendirikan maskapai penerbangannya sendiri.

Nguyen dan sang suami, pengusaha Nguyen Thanh Hung, memiliki saham mayoritas VietJet melalui perusahaan mereka, Sovico Holdings.

Awalnya, VietJet menarik perhatian publik lantaran para pramugarinya mengenakan bikini sebagai ajang promosi. Namun, maskapai itu kini berkembang pesat. Dalam dua tahun, VietJet sudah meraup laba dan kini melayani 300 penerbangan per hari, termasuk di dalamnya adalah 63 rute domestik dan beberapa rute internasional.

VietJet mengoperasikan 45 unit armada pesawat dan telah menerbangkan lebih dari 35 juta penumpang. Baru-baru ini, VietJet memesan lebih dari 200 unit pesawat kepada Airbus dan Boeing dengan nilai transaksi hampir 23 miliar dollar AS.

Meski sudah mencapai kesuksesan, Nguyen tidak berhenti bermimpi dan berambisi. Di tengah persaingan yang ketat, Nguyen tak gentar mengembangkan maskapai penerbangan yang didirikannya itu.

"VietJet menargetkan untuk menjadi maskapai penerbangan internasional, tidak hanya lokal," ujar Nguyen.




Close Ads X