BNI Tidak Akan Masif Kembangkan Cabang Digital

Kompas.com - 21/01/2019, 19:11 WIB
Corporate Secretary PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Kiryanto, di gedung pusat BNI, Jakarta Pusat, Rabu (14/6/2017).Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Corporate Secretary PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Kiryanto, di gedung pusat BNI, Jakarta Pusat, Rabu (14/6/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Transaksi digital PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mengalami pertumbuhan signifikan tahun ini. Corporate Secretary BNI Ryan Kiryanto mengatakan, saat ini transaksi elektronik melalui ATM, e-banking dan m-banking lebih dominan.

Ryan mengatakan, BNI tidak akan menambah kantor cabang dalam jumlah besar tahun ini. Penambahan kantor cabang hanya dilakukan di wilayah-wilayah blank spot atau belum memiliki kantor cabang BNI. Selain itu, BNI juga lebih memilih untuk melakukan relokasi dari kantor cabang yang bisnisnya tidak berkembang.

"Kantor cabang nggak akan nambah (signifikan), hanya nambah di daerah-daerah yang blank spot atau relokasi, yang secara bisnis nggak berkembang, kita relokasi ke tempat yang lebih ramai," ujar Ryan ketika memberikan penjelasan kepada awak media di kantornya, Senin (21/1/2019).

Jumlah kantor cabang fisik BNI, ujar Kiryanto, semakin berkurang karena transaksi yang mulai bergeser menjadi digital.

Direktur Retail Banking BNI Tambok P Setyawati mengatakan, transaksi digital atau e-channel BNI mencapai 92 persen dari keseluruhan transaksi.

Peningkatan signifikan terjadi melalui kanal m-banking. Jumlah transaksi melalui m-banking meningkat tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, dari 32 juta transaksi pada 2017 menjadi 97 juta transaksi di 2018.

"Nilai transaksinya pun cukup signifikan, yaitu tumbuh 168 persen dari Rp 50 triliun pada tahun 2017 dari Rp 133 triliun pada 2018," ujar Tambok melalui keterangan tertulis yang diterima Kompas.com.

Dibanding menambah kantor cabang konvensional, BNI saat ini tengah fokus mengembangan kantor cabang digital. Meski, modal yang dikucurkan untuk kantor cabang digital jauh lebih mahal.

"Jumlahnya kantor cabang secara fisik berkurang, karena orang lebih eletronic based. Jadi lebih ke digital branch, costnya memang besar, tapi kan good investment," ujar Ryan.



Close Ads X