Badan Geologi Siapkan Sistem untuk Deteksi Aktivitas Anak Krakatau

Kompas.com - 21/01/2019, 19:32 WIB
Aktivitas letupan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terpantau dari udara yang diambil dari pesawat Cessna 208B Grand Caravan milik maskapai Susi Air, Minggu (23/12/2018). KOMPAS/RIZA FATHONIAktivitas letupan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terpantau dari udara yang diambil dari pesawat Cessna 208B Grand Caravan milik maskapai Susi Air, Minggu (23/12/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Bidang Mitigasi Gunung api Badan Geologi Kementerian ESDM, Hendra Gunawan mengatakan, kemungkinan ancaman bencana akibat anak gunung krakatau tak hanya dari satu sumber. Kemungkinan ada interaksi lain di bawah laut yang selama ini belum terdeteksi.

Hal ini disebabkan minimnya infrastuktur pengawasan aktivitas gunung anak krakatau yang masih terbatas.

"Infrastruktur pemantauan letaknya jauh di darat. Tidak ada internet," ujar Hendra di kantor KESDM, Jakarta, Senin (21/1/2019).

Sistem yang saat ini diterapkan menggunakan sistem di radio yang menghubungkan pulau terdekat dengan pos pemantauan di gunung anak krakatau. Sistem itu dilengkapi infrasonik hingga CCTV. Pada 2016 lalu, mereka berencana mrmbangun enam stasiun serupa. Namun, satu persatu rusak dan hilang karena vandalisme.

Oleh karena itu, Badan Geologi telah merancang sistem untuk mengatasi kompleksitas, baik dari segi sains maupun iptek untuk menekan jumlah korban akibat aktivitas gunung.

"Ini bisa diakses dengan HP, komputer, di mana saja. Ini akan kota terapkan di mana kita bisa terima data dalam jangkauan area yang luas," katw Hendra.

Selain itu, pihaknya juga menjajal sistem yang mengirim pesan real time mengenai kondisi anak krakatau melalui SMS. Namun, cara ini membutuhkan biaya besar karena menggunakan pulsa yang tak sedikit. Badan geologi jiga mencoba penggabungan sistem radio dan internet.

"Sistem yang lama punya kekurangan. Nanti kita coba saling menutupi kebutuhan data dengan menggunakan multiparameter dari sensor yang akan kita pasang," kata Hendra.

Di samping itu, ada pula opsi lain menggunakan modul satelit. Namjn, biaya yang dibutuhkan jauh leboh mahal karena harga perangkatnya yang tinggi.

"Dari masalah pengembangan ke depannya diharapkan kita bisa mencegah kejadian karena ada masalah dalam infrastruktur," kata Hendra.

Sementara itu, Kepala Badan Geologi KESDM Rudy Suhendar memastikan pihaknya akan meningkatkan pengawasan dengan menambah beberapa instrumen yang akan dipasang di anak krakatau. Untuk sementara waktu, Badan Geologi belum berani mendekat ke lokaso karena statusnya masih siaga.

"Kita juga akan memberi informasi dan sosialisasi bersama dengan BNPB, kemudian kita akan lakukan prakiraan setiap bulan, infokan, declaire aktivitas setiap gunung," kata Rudy.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X