Kompas.com - 22/01/2019, 07:39 WIB

DAVOS, KOMPAS.com - Meningkatnya ketidakpastian kebijakan perekonomian di berbagai negara ditambah perang dagang telah membuat banyak CEO di dunia kehilangan optimisme.

Berdasarkan survei yang dilakukan PricewaterhouseCoopers (PwC) kepada 1.300 CEO di seluruh dunia, jumlah pimpinan perusahaan yang merasa laju perekonomian global akan semakin melambat tahun depan mengalami lonjakan menjadi mendekati 30 persen tahun ini dari hanya 5 persen tahun lalu.

Ombak pesimisme tersebut juga merambat ke pendapatan perusahaan. Hanya 35 persen CEO yang mengatakan mereka sangat percaya diri dengan prospek pertumbuhan bisnis dalam 12 bulan ke depan. Terjadi penurunan tajam sebesar 42 persen jika dibandingkan dengan kondisi tahun lalu.

"Pandangan para CEO mengenai kondisi perekonomian global adalah cerminan dari outlook ekonomi, mereka menurunkan prediksi mereka di 2019. Dengan meningkatnya tensi pedagangan dan proteksionisme adalah hal yang membuat optimisme mereka semakin terkikis," ujar Global Chairman PwC Bob Moritz dalam keterangan tertulis yang dikutip dari CNN.

Baca juga: Perang Dagang Trump Mulai "Memukul" AS Sendiri

Laporan PwC tersebut dipublikasika dalam pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Swiss.

Selain mengenai semakin rendahnya kepercayaan diri dari iklim dunia usaha, survei tersebut juga menunjukkan CEO di Amerika dan China sangat khawatir dengan konfrontasi yang terjadi di antara kedua negara mereka.

Di Amerika Selatan, sebanyak 44 persen merasa sangat khawatir dengan konflik perdagangan, sementara di wilayah Asia Pasifik sebesar 38 persen.

Banyak perusahaan melakukan penyesuaian strategi bisnis.

Sebesar 60 persen CEO di China yang sangat khawatir dengan perang dagang dan telah menyesuaikan rantai suplai mereka. Empat dari 10 perusahaan di China melakukan pergerseran lokasi produksi juga menunda mengeluarkan modal atau capital expenditure (capex).

Pempimpin perusahaan di China juga melakukan pemikiran ulang mengenai penting tidaknya pasar Amerika Serikat bagi pertumbuhan bisnisnya. Tahun lalu, sebesar 59 persen CEO yang menyatakan Amerika Serikat merupakan pasar luar negeri terbesar untuk pertumbuhan perusahaannya, namun angka tersebut saat ini anjlok, jadi tinggal 17 persen.

"Berpaling dari pasar AS dan pergeseran dalam investasi Cina ke negara-negara lain adalah reaksi terhadap ketidakpastian seputar sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China," kata Moritz.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber CNN
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.