Tepis Anggapan Indonesia Negara Miskin, Sri Mulyani Beberkan Fakta Ini

Kompas.com - 22/01/2019, 13:40 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani di Kantor KPPN VII Jakarta, Jumat (21/18/2018) KOMPAS.com/YOGA SUKMANAMenteri Keuangan Sri Mulyani di Kantor KPPN VII Jakarta, Jumat (21/18/2018)

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Keuangan Sri Mulyani menepis anggapan yang menyebut Indonesia termasuk negara miskin. Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto sebelumnya pernah menyebut Indonesia setara dengan negara-negara miskin di Afrika.

Menurut Sri Mulyani, di samping kekayaan sumber daya alam, kondisi perekonomian Indonesia juga masih jauh dari kata menyedihkan.

Ia mengakui, pada 2018 perekonomian Indonesia terpengaruh tekanan eksternal. Sejumlah faktor, seperti kenaikan suku bunga bank sentral AS, perang dagang AS dengan negara mitra, hingga meroketnya harga minyak dunia berdampak ke ekonomi sevara global, tak hanya Indonesia. Bahkan, beberapa negara tak mampu menahan tekanan itu sehingga terjadi krisis.

"Kalau dalam guncangan kita harus pilih, maju atau stabil. Kita memilih stabil, maka menaikkan suku bunga tujuh kali," kata Sri Mulyani di Jakarta, Senin (22/1/2019).

Baca juga: Oxfam: Kekayaan Separuh Populasi Orang Miskin Dunia Setara dengan Harta 26 Miliarder

Jika memaksakan untuk maju, dampaknya akan melebar ke aspek lainnya. Indonesia tidak akan bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, menjaga inflasi, dan menahan pelemahan rupiah.

Dengan mengambil berbagai kebijakan, mulai dari menaikkan suku bunga hingga menekan impor, 2018 ditutup dengan pertumbuhan ekonomi yang diprediksi sebesar 5,1 persen dan inflasi di level 3 persen. Defisit APBN 2018 pun lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya.

"Bayangkan, dalam situasi di mana guncangan terjadi, sering kita tidak melihat perpektif itu. Kita hanya melihat beberapa fakta yang memberikan narasi seolah Indonesia tidak mencapai sesuatu," kata Sri Mulyani.

Di samping itu, daya beli masyarakat Indonesia juga naik ditunjukkan dengan kenaikan angka konsumsi di atas 5 persen. Sri Mulyani juga menekankan pentingnya kepercayaan diri pelaku usaha maupun investor akan kebijakan Indonesia.

"Oleh karena itu, konsumsi jalan, investasi juga jalan. Kalau Anda tidak yakin ekonomi stabil, Anda akan holding," kata Sri Mulyani.

Baca juga: “Orang Miskin Itu Disiplin dalam Membayar Cicilannya..."

Lantas, apa benar anggapan Indonesia setara dengan negara miskin? Ekonom Chatib Basri menyatakan, daya beli masyarakat Indonesia masih tinggi hingga saat ini. Ia mencontohkan tingginya animo masyarakat Indonesia menonton konser penyanyi Phil Collins awal tahun ini di Australia dan Selandia Baru. Hal tersebut dibenarkan Sri Mulyani.

"Kalau dia tahu akan ekonominya nyungsep, dia tidak akan pergi ke luar negeri untuk nonton Phil Collins," kata mantan Direktur Bank Dunia itu.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X