Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Soal Budidaya Ikan, Sedikit Cerita dari Danau Toba...

Kompas.com - 22/01/2019, 18:31 WIB
|

HARANGGAOL, KOMPAS.com – “(Asal tahu saja), sejahteranya (masyarakat) Haranggaol kalau ditelusuri ya setelah budidaya ikan...”

Kalimat yang kurang lebih sama seperti itu dikatakan oleh beberapa petani yang ditemui Kompas.com saat mengunjungi Haranggaol, Simalungun, Sumatera Utara.

Masyarakat Haranggaol punya banyak cerita untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ini sekelumit kisah soal itu.

Dulu, sekira tahun 1970-1980, warga Haranggaol lebih senang bercocok tanam utamanya bawang merah. Sayangnya, iklim dan tekstur tanah tak selamanya mendukung. Kemudian mereka beralih menjadi petani ikan.

Mereka memanfaatkan perairan Danau Toba untuk budidaya ikan menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA). Kini, di Haranggaol ada 5.600 lubang KJA yang bisa menghasilkan nilai ekonomi miliaran.

“Per lubang bisa menghasilkan kurang lebih  1,4 ton untuk satu musim atau enam bulan. Coba saja kalikan, jika dari satu lubang biasanya kami mendapat Rp 4 juta,” ujar salah satu petani Robin Hutahaean, Jumat (18/1/2019).

Robin bercerita, kurang lebih 85 persen warga Haranggaol saat ini ekonominya tergantung pada KJA.

“Kami (warga) adalah pelaku bisnis langsung. Dalam satu keluarga (asli Haranggaol) biasanya minimal punya 4 lubang,” tambahnya.

Meski demikian, tak semua keluarga di Haranggaol usaha budidaya ikan. Ada juga yang bermatapencaharian dari turunan bisnis itu.

Ebed Boaz Sihotang, misalnya, seorang agen distribusi pakan ikan. Kata Ebed, putaran ekonomi di Haranggaol memang berporos pada bisnis itu yang berujung terhadap penyerapan tenaga kerja masyarakat, mulai dari pembenihan, produksi pakan, pemeliharaan, panen, transportasi, rantai pemasaran, dan kuliner dengan bahan baku ikan.

“Banyak lah turunan bisnisnya. Ada yang seperti saya ini, sampai kuli panggul. Pokoknya semuanya ujung-ujungnya karena budidaya ikan pada KJA,” kata dia.

Salah satu petani yang memanfaatkan perairan Danau Toba untuk berbudidaya ikan air tawar.KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Salah satu petani yang memanfaatkan perairan Danau Toba untuk berbudidaya ikan air tawar.

Petani ikan di sana pun bermacam-macam. Ada yang mengurus dan merawat milik sendiri, ada pula petani yang dibayar oleh pebisnis lainnya sehingga bertanggung jawab atas lubang KJA.

Robin sendiri bertanggung jawab pada lebih dari 100 kolam milik ia dan keluarga. Sehari-hari, ia dibantu 5 karyawan.

Berbeda dengan Hotjon Haloho. Ia mengaku bertanggung jawab atas 250 lubang, dengan rincian 22 lubang milik sendiri dan sisanya milik pengusaha lain.

Budidaya ikan, menurut Hotjon sudah jadi keseharian warga asli. Sebagai petani sekaligus pebisnis, ia adalah generasi kedua keluarga.

“Dulu bapak juga bisnisnya seperti ini. Saya dulunya bantu-bantu saja, sampai sekarang menjalani sepenuhnya,” kata Jon.

Lain dulu lain sekarang

Puluhan tahun lalu, budidaya ikan di perairan Danau Toba, bagi warga Haranggaol memang tak populer.

Warga sana lebih dulu kenal bercocok tanam bawang merah. Tanaman tersebut dipilih karena dikenal cepat panen sehingga dapat menghasilkan putaran uang dengan cepat. Satu musim biasanya hanya memakan waktu dua bulan.

“Itu kan dulu, lain dengan sekarang. Alamnya sudah tidak mendukung kami untuk menjadi petani bawang lagi,” lanjut Robin.

Robin sendiri memang belum mencoba bercocok tanam, tetapi beberapa warga sana kata dia sudah mencoba berkali-kali untuk menanam bawang merah kembali seperti dulu.

“Sayangnya belum pernah sampai panen sudah mati duluan (tanamannya),” ujar dia.

Ujung-ujungnya, warga kembali berbudidaya ikan.

Akan tetapi, belakangan, berita mengenai menurunnya kualitas perairan Danau Toba mengusik mereka. Aktivitas budidaya ikan menggunakan KJA di sekitar Danau Toba disebut-sebut sebagai pencemar utama.  

Seperti trauma

Sebenarnya, menurunnya kualitas air Danau Toba tak sepenuhnya disebabkan KJA dan aktivitas budidaya ikan.

Hasil studi dari pusat riset Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI) menyebutkan bahwa Danau Toba adalah muara dari berbagai sungai di Sumatera Utara. Karena itulah, Danau Toba menerima limbah dari berbagai kegiatan industri dan rumah tangga, termasuk peternakan.

Keramba Jaring Apung di wilayah Danau Toba.KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Keramba Jaring Apung di wilayah Danau Toba.

Meski demikian, asumsi mengenai aktivitas pada KJA sebagai pencemar utama kadung meluas. Saat ini, petani jadi harap-harap cemas menunggu kepastian apa yang akan pemerintah upayakan.  

“Namanya pencaharian utama kami dari sini, jelas kami takut. Belum apa-apa seperti ini saja, kami sudah seperti trauma memikirkan nasib (kami) nantinya kalau memang KJA harus dihilangkan,” ujar Robin lagi.

Ketakutan makin menjadi kala keadaan itu dihubung-hubungkan dengan kekhawatiran pemerintah akan dampaknya pada kunjungan wisatawan. Danau Toba memang jadi salah satu destinasi andalan untuk menggaet wisatawan mancanegara.

Sebagai sebuah destinasi wisata, Danau Toba bisa saja menciptakan peluang mata pencaharian baru bagi warga.

Sayangnya, hal itu masih jauh dari bayangan. Jalan menuju Danau Toba kerap longsor sehingga menutupi jalan utama.

“Kami sebagai warga belum melihat ini jadi peluang bisnis baru yang bisa diandalkan. Wisatawan yang ke sini masih sedikit. Penginapan juga belum tumbuh, yang aktif dan beroperasional baru satu atau dua,” kata Robin.

Budidaya berkelanjutan

Pada dasarnya, jika dikelola dengan praktik yang berkelanjutan,  KJA dapat hidup berdampingan dengan ekosistem Danau Toba. Tak menutup kemungkinan pula KJA di wiayah Danau Toba ke depannya bisa dikembangkan menjadi pilihan ekowisata.

Mengenai budidaya berkelanjutan, PT Japfa Comfeed Indonesia melalui anak usahanya PT Suri Tani Pemuka (STP) yang sudah beroperasi di Danau Toba sejak 2012 sudah menjalankan hal itu.

Sebagai korporasi, STP mengantongi izin operasi KJA di tiga lokasi, yakni Tambun Raya, Sipolha, dan Tigaras.

Sejak berdiri, STP mengutamakan budidaya ikan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Mereka menerapkan pola dengan menggunakan benih yang berstandar, menggunakan pakan yang ramah lingkungan, dan juga pemberian pakan dengan menggunakan mesin sehingga terkontrol dan sesuai kebutuhan.

Keramba Jaring Apung milik PT Suri Tani Pemuka (STP) di Tambun Raya, Danau Toba.KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Keramba Jaring Apung milik PT Suri Tani Pemuka (STP) di Tambun Raya, Danau Toba.

Berbeda dengan operasional perusahaan, petani biasanya melakukan aktivitas secara manual. Akan tetapi, para petani bisa belajar bagaimana mempraktikan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), ramah lingkungan, dan berkelanjutan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh KKP RI.

STP juga aktif bermitra dengan masyarakat pembudidaya ikan di kawasan Danau Toba. Bahkan,  pada 2016 dan 2017 mereka juga mengadakan sosialisasi praktik budidaya ikan yang baik dengan target masyarakat pembudidaya.

Pembinaan mencakup aspek peningkatan produktivitas dan penerapan praktik yang ramah lingkungan serta berkelanjutan.

Pada 2018, STP juga mengadakan pembinaan pemanfaatan produk sampingan ikan budidaya seperti sirip, kepala ikan, dan kulit ikan yang dapat dijadikan kudapan ringan untuk mendorong peningkatan perekonomian masyarakat sekitar.

“Kami ini sebenarnya menunggu saja. Kalau harus dibina, ya kami siap (dibina). Kalau harus dikenakan pajak, kami juga siap (membayar pajak),” tambah Robin lagi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UMKM Asal Gresik Binaan SIG Raih Omzet Rp150 Juta Saat Bazar BUMN

UMKM Asal Gresik Binaan SIG Raih Omzet Rp150 Juta Saat Bazar BUMN

Rilis
Jokowi: Tekanan Ekonomi Global terhadap Ekonomi Kita Sudah Agak Mereda

Jokowi: Tekanan Ekonomi Global terhadap Ekonomi Kita Sudah Agak Mereda

Whats New
Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Kementan Fokus Awasi Praktik Alih Fungsi Lahan

Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Kementan Fokus Awasi Praktik Alih Fungsi Lahan

Rilis
Erick Thohir Rombak Jajaran Direksi Perum Perhutani

Erick Thohir Rombak Jajaran Direksi Perum Perhutani

Whats New
Masyarakat 'Mampu' Lebih Pilih Beli BBM Bersubsidi, YLKI: Harganya Lebih Murah

Masyarakat "Mampu" Lebih Pilih Beli BBM Bersubsidi, YLKI: Harganya Lebih Murah

Rilis
Nama 'Balon' Pengganti Perry Warjiyo Bermunculan, Ini Kriteria yang Harus Dimiliki Calon Gubernur BI

Nama "Balon" Pengganti Perry Warjiyo Bermunculan, Ini Kriteria yang Harus Dimiliki Calon Gubernur BI

Whats New
BPS Catat Inflasi Januari 2023 Capai 5,28 Persen

BPS Catat Inflasi Januari 2023 Capai 5,28 Persen

Whats New
ID FOOD Targetkan Pendapatan di Sepanjang 2023 Sebesar Rp 17 Triliun

ID FOOD Targetkan Pendapatan di Sepanjang 2023 Sebesar Rp 17 Triliun

Rilis
Jokowi: Kalau Dulu Kita 'Lockdown', Enggak Ada 3 Minggu Pasti Rusuh

Jokowi: Kalau Dulu Kita "Lockdown", Enggak Ada 3 Minggu Pasti Rusuh

Whats New
Harga Pertamax Turbo Naik, Pertamina: Masih Paling Kompetitif Dibanding Perusahaan Lain

Harga Pertamax Turbo Naik, Pertamina: Masih Paling Kompetitif Dibanding Perusahaan Lain

Whats New
Pemerintah Hemat Rp 30 Triliun Per Tahun berkat 'Burden Sharing' dengan BI

Pemerintah Hemat Rp 30 Triliun Per Tahun berkat "Burden Sharing" dengan BI

Whats New
Jumlah Infrastruktur Kendaraan Listrik Bertambah Sepanjang 2022, Emisi CO2 Ditekan hingga 13,8 Juta Ton

Jumlah Infrastruktur Kendaraan Listrik Bertambah Sepanjang 2022, Emisi CO2 Ditekan hingga 13,8 Juta Ton

Rilis
Kemenhub Anggarkan Rp 15,8 Miliar untuk Transportasi Darat di IKN Nusantara pada 2023

Kemenhub Anggarkan Rp 15,8 Miliar untuk Transportasi Darat di IKN Nusantara pada 2023

Whats New
Masih Muda Beli Asuransi, Apa Untungnya?

Masih Muda Beli Asuransi, Apa Untungnya?

Spend Smart
Tempat Pembuangan Sampah Disulap Jadi Taman Kreatif, Sandiaga: Bisa Jadi Daya Tarik Wisata Lingkungan Hidup

Tempat Pembuangan Sampah Disulap Jadi Taman Kreatif, Sandiaga: Bisa Jadi Daya Tarik Wisata Lingkungan Hidup

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+