Di Forum Ekonomi Dunia, Jack Ma Sebut Teknologi Bisa Sebabkan Perang Dunia III

Kompas.com - 24/01/2019, 08:01 WIB
CEO Alibaba Group Jack Ma (tengah) menyemarakkan Upacara Penutupan Asian Games ke-18 Tahun 2018 di Stadion Utama GBK, Senayan, Jakarta, Minggu (2/9/2018).  ANTARA FOTO/INASGOC/Wahyudin CEO Alibaba Group Jack Ma (tengah) menyemarakkan Upacara Penutupan Asian Games ke-18 Tahun 2018 di Stadion Utama GBK, Senayan, Jakarta, Minggu (2/9/2018).

JAKARTA, KOMPAsS.com - Miliarder China Jack Ma mengungkapkan bahwa teknologi dapat menyebabkan perang dunia ketiga. Karena sejarah menunjukkan inovasi teknologi adalah faktor utama di balik konflik global.

"Perang dunia pertama adalah karena revolusi teknologi pertama. Revolusi teknologi kedua menyebabkan perang dunia kedua," " kata Jack Ma di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss dikutip dari CNBC, Kamis (24/1/2019).

"Ini adalah revolusi teknologi ketiga, kami akan datang," tambah Ma.

Peringatan ini bukan yang pertama kalinya dilontarkan pendiri Alibaba ini. Pada 2017, Ma membuat komentar yang mirip dan mengatakan bahwa perkembangan pembelajaran mesin dan kecerdasan buatan (AI) kemungkinan akan menghasilkan Perang Dunia III.

Baca juga: Jack Ma: Perang Dagang Hal Paling Bodoh di Dunia

Hal senanda juga sempat diungkapkan oleh miliarder teknologi lain, Elon Musk. Kepala eksekutif Tesla itu mengatakan tahun lalu bahwa persaingan antar negara untuk menjadi pemimpin di bidang Al kemungkinan besar akan menyebabkan Perang Dunia II.

Pada topik robot dan AI, Ma menekankan pentingnya pendidikan, bahwa orang muda harus dapat melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan mesin.

Terlepas dari pernyataan terbaru itu, Ketua Eksekutif Alibaba ini menyebutkan bahwa dirinya masih percaya pada potensi teknologi untuk berbuat baik.

Dia menyoroti perubahan iklim sebagai area di mana teknologi dapat digunakan dengan cara yang bermanfaat bagi masyarakat. Data misalnya sebut dia, dapat membantu para ahli menggunakan bahan bakar fosil secara efisien dan cerdas.

"Saya bukan orang teknologi, tapi saya percaya bahwa teknologi itu bagus untuk manusia.  Dan sebagai perusahaan teknis, tidak menjadi jahat tidak cukup," kata Ma.

"Anda harus melakukan hal-hal baik untuk dunia, melakukan hal-hal baik untuk masa depan dan percaya pada orang muda," lanjut dia.

Informasi saja, "tidak menjadi jahat" sempat menjadi motto Google dan merupakan bagian dari kode etik perusahaan internal sejak 2000. Kini sebagian besar frasa tersebut sudah dihapus sejak tahun lalu, meskipun masih ada yang muncul di akhir kalimat dokumen.





Close Ads X