Kembali Menguat, Rupiah Berada di Posisi Rp 14.150 Per Dollar AS

Kompas.com - 24/01/2019, 10:46 WIB
Ilustrasi uang KOMPAS/HERU SRI KUMORO Ilustrasi uang

JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS Kamis (24/1/2019) kembali menguat terhadap dollar AS.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah di pasar spot pukul 10.15 WIB, menguat ke posisi Rp 14.150 per dollar AS, atau naik 0,26 persen dibandingkan penutupan kemarin.

Sementara kurs Jisdor Bank Indonesia, rupiah menguat ke posisi Rp 14.141 per dollar AS, dibandingkan kemarin pada 14.188.

Kepala Riset Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menyebut, penguatan mata uang garuda seiring kekhawatiran terhadap potensi resesi ekonomi Amerika Serikat (AS) yang dinilai belum kuat.

Baca juga: BI: Bank Sentral AS Tak Lagi Agresif, Kinerja Rupiah Membaik

"Data ekonomi AS yang dianggap bisa mewakili potensi resesi di AS yaitu sektor perumahan belum terkonfirmasi," sebut dia seperti dilansir Antara.

Harga rumah untuk single family dengan menggunakan KPR November 2018 naik 0,4 persen bulan ke bulan (mom), mengikuti kenaikan 0,4 persen (mom) pada Oktober 2018, dan lebih tinggi dari perkiraan konsensus sebesar 0,2 persen (mom).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Harga rumah ini relatif "flat", namun cenderung melambat dibandingkan Februari 2018 yang mencapai kenaikan tertinggi 1 persen (mom).

Penguatan ekonomi juga terlihat dari indeks aktivitas manufaktur dari lima negara bagian yang dihitung oleh The Fed Richmond naik menjadi minus 2 untuk Januari 2019, membaik dari minus 8 pada Desember 2018, jauh lebih baik dibandingkan perkiraan konsensus yang minus 6.

"Kedua data tersebut membuat kekawatiran terhadap potensi resesi AS belum terlalu kuat. Kemungkinan the Fed masih akan menahan kebijakan suku bunganya pada pertemuan 29-30 Januari mendatang," ujar Lana.

Dari domestik, sudah ditandatanganinya Peraturan Pemerintah (PP) mengenai devisa hasil ekspor (DHE) pada 10 Januari 2019 lalu, disebut akan menjadi penopang rupiah ke depan.

Aturan teknis PP tersebut akan dikeluaran dari Kementrian Keuangan, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). PP tersebut memuat kewajiban DHE hasil sumber daya alam untuk disimpan di perbankan dalam negeri efektif mulai 1 Maret 2019.

Kebijakan lanjutan adalah insentif atas pajak penghasilan (PPh) sebesar 0 persen untuk DHE yang dikonversikan ke rupiah dengan deposito tenor di atas 6 bulan melalui rekening khusus. Berdasarkan data BI, pelaporan DHE saat ini tercatat telah mencapai 95 persen dari total Surat Pemberitahuan Ekspor (SPE), namun DHE yang dibawa masuk baru mencapai 15 persen.

"Dengan aturan ini DHE akan menjadi penopang fundamental rupiah," kata Lana.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.