Kuasai Freeport, Indonesia Belum Bisa Nikmati Untung Besar...

Kompas.com - 31/01/2019, 06:01 WIB
Presiden Joko Widodo (tengah) berjabat tangan dengan CEO Freeport McMoRan Richard Adkerson (kedua kanan) disaksikan Menteri BUMN Rini Soemarno (kiri), Menteri ESDM Ignasius Jonan (kedua kiri) dan Direktur Utama PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) Budi Gunadi Sadikin seusai memberikan keterangan terkait pelunasan divestasi PT Freeport Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (21/12/2018).  Presiden mengumumkan pelunasan divestasi PT Freeport Indonesia dengan membayarkan 3,85 miliar dolar AS atau sekitar Rp56 triliun melalui PT Inalum sehingga telah resmi menjadi milik Indonesia. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/hp. WAHYU PUTRO APresiden Joko Widodo (tengah) berjabat tangan dengan CEO Freeport McMoRan Richard Adkerson (kedua kanan) disaksikan Menteri BUMN Rini Soemarno (kiri), Menteri ESDM Ignasius Jonan (kedua kiri) dan Direktur Utama PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) Budi Gunadi Sadikin seusai memberikan keterangan terkait pelunasan divestasi PT Freeport Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (21/12/2018). Presiden mengumumkan pelunasan divestasi PT Freeport Indonesia dengan membayarkan 3,85 miliar dolar AS atau sekitar Rp56 triliun melalui PT Inalum sehingga telah resmi menjadi milik Indonesia. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/hp.

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia memang sudah memegang 51 persen saham PT Freeport Indonesia, namun belum akan mendapatkan keuntungan besar dalam beberapa tahun ke depan.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengatakan, hal itu terjadi lantaran dalam tiga tahun ke depan, Freeport perlu melakukan investasi yang sangat besar.

"Untuk tiga tahun pertama itu akan banyak invesment sehingga dividennya akan drop," ujarnya di Jakarta, Rabu (30/1/2019).

Dividen adalah pembagian laba perusahaan kepada pemegang saham berdasarkan banyaknya saham yang dimiliki.

Baca juga: Masa Depan Rantai Bisnis dan Orang Kuat di Sekitar Freeport...

Penurunan dividen ini disebabkan kemampuan perusahaan mencatat laba (profitability) yang juga diyakini akan menurun pada 2019, 2020 dan 2021.

Ada dua proyek yang akan menyedot dana besar Freeport pada tiga tahun pertama pasca saham mayoritas dipegang Indonesia.

Pertama, pembangunan pabrik pemurnian konsentrat (smelter) dan kedua penambangan bawah tanah (underground).

"Kami menekankan smelter ini penting agar di prosesnya di Indonesia sehingga produk-produk sampingnya pun bisa dikembangkan juga di Indonesia. Kedua bahwa tambangnya itu sendiri tidak lagi open pit tetapi harus underground," kata Rini.

Meski begitu, Rini yakin RI akan menuai keuntungan dari investasi besar Freeport pada 2022 mendatang. Menurut Rini, hal ini merupakan hal yang wajar dalam korporasi.

Ia lantas mencontohkan perusahaan-perusahaan BUMN yang juga melakukan investasi besar pada 2016 dan 2017 lalu. Akibatnya growth dari profitability BUMN tersebut tidak sebanyak tahun sebelumnya.

"Sehingga (keuntungan BUMN) baru akan kelihatan mungkin akhir 2019 naik karena investasinya mulai memberikan hasil. Nah Freeport juga akan begitu," kata dia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X