Ekonom Ini Sebut "Startup" Bisa Sebabkan Krisis jika Tak Dikelola Hati-hati

Kompas.com - 31/01/2019, 09:59 WIB
IlustrasiThinkstock Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance ( Indef) Aviliani menyatakan pertumbuhan perusahaan rintisan alias startup perlu diwaspadai. Jika tak hati-hati, melesatnya pertumbuhan startup bisa bikin krisis ekonomi.

"Perusahaan-perusahaan ini nilai valuasinya bisa mencapai triliunan, tapi keuangannya merah," katanya di sela Diskusi Indef, Rabu (30/1/2019) di Jakarta.

Ia mencontohkan, startup ride sharing atau e-commerce yang nilai valuasinya besar, namun asetnya berasal dari mitra, bukan milik perusahaan.

"Krisis ekonomi berikutnya, bisa terjadi dari bubble startup. Nilainya tinggi, tapi tak punya aset. Apalagi kemudian jika masuk pasar modal, dibeli sahamnya mahal oleh publik, kemudian jatuh," paparnya.

Di sisi lain ia juga menyoroti bagaimana startup keuangan, alias perusahaan teknologi finansial (Tekfin) yang menjadi tantangan buat Industri perbankan.

Misalnya tekfin yang menawarkan imbal hasil lebih memikat untuk berinvestasi dibandingkan produk-produk perbankan. Alhasil kini generasi milenial disebutnya memang lebih suka kenyimpan uang di perusahaan tekfin, alih-alih bank konvensional.

"Nanti menjelang 10 tahun ke depan perbankan hanya akan memegang dana masyarakat sekitar 55 persen dan sisanya sebanyak 45 persen akan berpindah pada sektor non-bank,” jelasnya.

 

Berita ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul: Valuasi tinggi tapi aset minim, Indef: Hati-hati startup bisa memicu krisis ekonomi

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X