2 Faktor Ekonomi Ini Bisa Bikin Elektabilitas Jokowi Goyah

Kompas.com - 31/01/2019, 17:29 WIB
Presiden Joko Widodo meninjau program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) binaan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) di Alun-Alun Kota Bekasi, Jumat (25/1/2019). KOMPAS.com/IhsanuddinPresiden Joko Widodo meninjau program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) binaan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) di Alun-Alun Kota Bekasi, Jumat (25/1/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Elektabilitas calon presiden Joko Widodo masih unggul dari Prabowo Subianto. Data survei Indikator Desember 2018 misalnya, mengungkapkan elektabilitas keduanya terpaut hingga 20 persen.

Meski begitu pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi mengatakan, selisih 20 persen bukanlah angka yang aman untuk Jokowi.

"Kalau kita bandingkan dengan 2009 saat Pak SBY running for election, Pak SBY 3 bulan sebelumnya itu keunggulannya sampai 50 persen dengan Ibu Mega, bahkan jauh lagi dengan Pak Jusuf Kalla," ujarnya di acara DBS Asian Insight Conference, Jakarta, Kamis (31/1/2019).

Hingga hari pencoblosan 17 April 2019 nanti kata Burhanuddin, semua masih bisa terjadi. Elektabilitas Jokowi bisa saja goyah bila sektor ekonomi, utamanya yang berkaitan dengan inflasi,  tidak dijaga dengan baik.

Baca juga: Jokowi: Pasar Kereta Dunia Luas, Sudah Kita Kuasai

Ia menilai ada 2 faktor ekonomi yang bisa menggoyahkan elektabilitas Jokowi. Pertama kenaikan harga jagung untuk pakan ternak yang bisa berdampak kepada harga daging ayam dan telur.

Belum lama ini para peternak ayam mengeluhkan mahalnya harga jagung. Hal ini berakibat kepada kenaikan harga daging ayam dan telur.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kalau ini terjadi terus menerus, bahkan menaikan tingkat inflasi, itu bahaya buat Pak Jokowi," kata dia.

Kedua, faktor kenaikan harga BBM. Sudah jadi rahasia umum kalau harga BBM masih tergantung dengan harga minyak dunia. Bila dalam 3 bulan ke depan harga minyak dunia naik, maka harga BBM bisa naik.

Saat ini menurut Burhanuddin, Jokowi tak punya banyak kemewahan layaknya SBY saat Pilpres 2008 lalu.

Pada 2008 kata dia, harga minyak dunia sempat turun jelang pemilu. Presiden SBY pun mengambil momentum dengan kebijakan populis yakni menurunkan harga BBM 3 kali secara berturut-turut.

Belum lagi, Pemerintahan SBY juga memiliki kartu lain yakni program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang menyentuh langsung masyarakat bawah.

"Nah kemewahan itu enggak dimiliki oleh pemerintahn sekarang. Ada banyak kartu tetapi kartunya bukan cash sehingga tidak ada drama saat dibagikan," kata dia.

Meski begitu, Burhanudin meyakini, pemerintahan Jokowi akan menahan semua kenaikan harga yang bisa berdampak kepada kenaikan inflasi. Setidaknya hingga pemilihan presiden dilakukan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

LRT Tabrakan, Dirut INKA Minta Maaf ke Luhut hingga Erick Thohir

LRT Tabrakan, Dirut INKA Minta Maaf ke Luhut hingga Erick Thohir

Whats New
JICT Tindak Tegas Oknum Pelaku Pungli di Pelabuhan

JICT Tindak Tegas Oknum Pelaku Pungli di Pelabuhan

Rilis
Luhut: Ada Klub Malam, Tempat Wisata, hingga Restoran Tak Terapkan Protokol Kesehatan Saat PPKM

Luhut: Ada Klub Malam, Tempat Wisata, hingga Restoran Tak Terapkan Protokol Kesehatan Saat PPKM

Whats New
INKA: Uji Coba LRT Jabodebek Tunggu Hasil Investigasi KNKT

INKA: Uji Coba LRT Jabodebek Tunggu Hasil Investigasi KNKT

Whats New
Pengertian Capital Gain, Cara Menghitung, dan Bedanya dengan Dividen

Pengertian Capital Gain, Cara Menghitung, dan Bedanya dengan Dividen

Spend Smart
Catat, Ini 6 Kesalahan yang Dapat Merugikan Bisnis Online-mu di Instagram

Catat, Ini 6 Kesalahan yang Dapat Merugikan Bisnis Online-mu di Instagram

Smartpreneur
Sri Mulyani Idolakan Sang Bunda, Meski Punya Anak 10 Tapi Mampu Raih PhD

Sri Mulyani Idolakan Sang Bunda, Meski Punya Anak 10 Tapi Mampu Raih PhD

Whats New
Volume Penjualan Semen Baturaja Tumbuh 5 Persen hingga September 2021

Volume Penjualan Semen Baturaja Tumbuh 5 Persen hingga September 2021

Rilis
Dirut INKA: Ada Indikasi Human Error pada Kecelakaan LRT Jabodebek

Dirut INKA: Ada Indikasi Human Error pada Kecelakaan LRT Jabodebek

Whats New
Ini 22 Bank dengan Tarif Transfer Antarbank yang Turun Jadi Rp 2.500

Ini 22 Bank dengan Tarif Transfer Antarbank yang Turun Jadi Rp 2.500

Whats New
Dompet Digital Makin Diminati, Sudah Yakin dengan Keamanannya?

Dompet Digital Makin Diminati, Sudah Yakin dengan Keamanannya?

BrandzView
Punya Peran Menjaga Stabilitas Perekonomian Negara, Perempuan Pelaku UMKM Perlu Dukungan

Punya Peran Menjaga Stabilitas Perekonomian Negara, Perempuan Pelaku UMKM Perlu Dukungan

BrandzView
Kemenkeu soal Tarif Cukai Rokok: Insya Allah Ditetapkan Bulan Ini

Kemenkeu soal Tarif Cukai Rokok: Insya Allah Ditetapkan Bulan Ini

Whats New
Kemendag Catat 7.368 Pengaduan Konsumen di Sektor E-Commerce

Kemendag Catat 7.368 Pengaduan Konsumen di Sektor E-Commerce

Rilis
Apa Itu Delisting Saham dan Bagaimana Dampaknya ke Investor?

Apa Itu Delisting Saham dan Bagaimana Dampaknya ke Investor?

Spend Smart
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.