Belajar dari Kegagalan William Tanuwijaya, Founder dan CEO Tokopedia

Kompas.com - 01/02/2019, 06:06 WIB
CEO Tokopedia William Tanuwijaya di konferensi pers World Conference on Creative Economy (WCCE) di Jakarta, Selasa (25/9/2018)KOMPAS.com/ Putri Syifa Nurfadilah CEO Tokopedia William Tanuwijaya di konferensi pers World Conference on Creative Economy (WCCE) di Jakarta, Selasa (25/9/2018)

JAKARTA, KOMPAS.com — " Tokopedia sebenarnya lebih banyak cerita gagalnya", begitu kata Founder sekaligus CEO Tokopedia William Tanuwijaya.

Tak banyak yang tahu kalau kesuksesan perusahaan e-commerce asal Indonesia ini justru diawali dengan rentetan kegagalan.

Bahkan dengan berani, William menyebut dirinya telah gagal, bahkan sebelum mengembangkan Tokopedia. Ia menceritakan itu dalam acara DBS Asian Insight Conference, Jakarta, Kamis (31/1/2019).

Ceritanya dimulai dari 2009 saat William mencoba mencari investor untuk Tokopedia. Ia juga mencari pekerja pertama dan bank serta perusahaan logistik.

Baca juga: Cerita Eka Tjipta Widjaja Rintis Bisnis sejak Remaja

Sejak awal Tokopedia didirikan agar seluruh masyarakat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke bisa memiliki kesempatan yang sama untuk berusaha, mengakses, hingga membeli barang.

Dengan Tokopedia-nya, William ingin menciptakan pemerataan ekonomi lewat ekonomi digital.

Itulah mimpi besar William.

Namun, sampai dua tahun, upaya itu tak membuahkan hasil. Tak ada orang yang percaya dengan mimpinya itu.

Maklum, saat itu ekonomi digital memang belum memiliki rekam jejak di Indonesia. William pun tak punya rekam jejak merintis usaha.

Baca juga: Kisah Lea Jeans di Tangan Generasi Kedua

Dia justru dapat nasihat dari seseorang yang ia harapkan menjadi investor Tokopedia.

"Dia mengatakan, 'Kamu masih muda dan muda itu cuma sekali. Jangan sia-siakan masa muda mu. Orang-orang yang lahir dari Silicon Valley itu spesial, sedangkan kamu tidak. Carilah yang realistis, jangan mimpi siang bolong'," ujarnya menirukan kata-kata orang itu.

Silicon Valley adalah julukan bagi daerah selatan dari San Francisco, Amerika Serikat, lantaran banyak perusahaan rintisan yang bergerak dalam bidang komputer di daerah tersebut.

Saat itu William sadar bahwa Indonesia tidak memiliki mimpi besar layaknya Silicon Valley dengan "American Dream-nya".

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X