Pemanfaatan Panel Surya Dinilai Hemat Tagihan Listrik

Kompas.com - 03/02/2019, 18:21 WIB
Warga melintas di bawah instalasi panel surya di Terminal Tirtonadi, Solo, Jawa Tengah, Rabu (26/7/2017). Proyek Kementerian Perhubungan tersebut mampu menghasilkan tenaga listrik 500 kilo volt ampere (kVA) atau 500.000 watt sebagai upaya penghematan energi listrik operasional Terminal tipe A Tirtonadi. ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHAWarga melintas di bawah instalasi panel surya di Terminal Tirtonadi, Solo, Jawa Tengah, Rabu (26/7/2017). Proyek Kementerian Perhubungan tersebut mampu menghasilkan tenaga listrik 500 kilo volt ampere (kVA) atau 500.000 watt sebagai upaya penghematan energi listrik operasional Terminal tipe A Tirtonadi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemanfaatan sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap dinilai mampu mengurangi biaya tagihan listrik yang dibayar konsumen kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Tidak hanya itu, sistem yang menggunakan panel surya tersebut menjadi sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan.

“Pembayaran tagihan listrik konsumen akan berkurang drastis ketika memakai panel surya. Ada persepsi alat tersebut harganya mahal, padahal faedahnya jauh lebih besar mengingat panel surya dapat bertahan 20 tahun,” kata Direktur Utama PT Sky Energy Indonesia Tbk (JSKY) Jackson Tandiono dalam pernyataannya di Jakarta, Minggu (3/2/2019).

Baca juga: ESDM Targetkan Listrik Panel Surya Atap Capai 1 Gigawatt dalam 3 Tahun

PLTS atap pun dipandang tengah populer dan berkembang pesat, karena implementasinya mudah, sederhana, dan kapasitas yang mudah diatur sesuai ketersediaan luasan atap. Menurut Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dengan memasang PLTS atap secara on grid, konsumen dapat menurunkan biaya tagihan listriknya secara signifikan, minimal 30 persen.

Bahkan, Menteri ESDM Ignatius Jonan pernah mengatakan, setelah memakai panel surya di rumahnya, tagihan listrik yang biasanya berkisar Rp 4 juta -5 juta per bulan menjadi sekitar Rp 1 juta atau Rp 1 juta lebih.

“Sebagai negara tropis yang banyak mendapat sinar matahari, pemakaian panel surya dapat sangat membantu konsumen. Apalagi, kelebihan daya listrik yang dihasilkan dapat dijual ke PLN,” jelas Jackson.

Baca juga: Pasang Panel Surya, Kapan Anda Bisa Balik Modal?

Hal itu selaras dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 49 tahun 2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap Oleh Konsumen PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

Dalam peraturan yang ditetapkan 15 November 2018 dan berlaku mulai 1 Januari 2019 itu dijelaskan penggunaan sistem PLTS Atap bertujuan untuk menghemat tagihan listrik pelanggan PLTS Atap. Karena itu, kelebihan tenaga listrik yang dihasilkan akan diekspor (dijual) ke PLN dengan faktor pengali 65 persen.

Jackson mengatakan, kehadiran Permen ESDM Nomor 49 tahun 2018 dapat mendorong minat masyarakat untuk menggunakan panel surya. JSKY optimistis permintaan akan panel surya cukup tinggi di Tanah Air.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X