BKPM: Investor Besar Sudah Makin Nyaman bahwa Badai Sudah Berlalu - Kompas.com

BKPM: Investor Besar Sudah Makin Nyaman bahwa Badai Sudah Berlalu

Kompas.com - 06/02/2019, 14:41 WIB
Kepala BKPM Thomas Lembong di Kantor BKPM, Jalarta, Rabu (30/1/2019)Kompas.com/YOGA SUKMANA Kepala BKPM Thomas Lembong di Kantor BKPM, Jalarta, Rabu (30/1/2019)

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal ( BKPM) Thomas Lembong optimistis iklim investasi di 2019 kembali membaik setelah jatuh di 2018.

Thomas mengatakan, pertumbuhan investasi sepanjang 2018 hanya sekitar 4 persen, melambat dibandingkan capaian 2017 di atas 10 persen.

Menurut dia pelambatan itu karena tekanan eksternal seperti perang dagang hingga kenaikan suku bunga yang mempengaruhi nili tukar rupiah. Hal ini membuat investor kurang nyaman dan cenderung wait and see untuk berinvestasi di Indonesia.

"Kita sudah bisa mulai melihat tanda-tanda rebound. Sudah mulai kelihatan dari dialog-dialog kami dengan investor besar, kayaknya investor besar sudah semakin nyaman bahwa badai sudah berlalu, sudah lewat," ujar Thomas di kantor BKPM, Jakarta, Rabu (6/2/2019).

Baca juga: BKPM: Realisasi Investasi Tahun 2018 Cukup Mengecewakan

Thomas menyebutkan, investor juga nampak tak terganggu dengan situasi politik di Indonesia menjelang tahun pemilu. Ada optimisme kuat bahwa Pemilu akan berlangsung aman sehingga tak akan mempengaruhi industri dan investasi.

Iklim investasi yang positif juga ditunjukkan beberapa perusahaan digital seperti e-commerce dan startup lainnya yang mendapat suntikan dana dari investor dalam jumlah besar.

Oleh karen itu kata Thomas, meski pasar pesimistis dengan ekonomi AS, dia meyakini pada semester kedua ekonomi akan bangkit. Salah satu faktornya yakni naiknya kesempatan kerja di AS dan The Fed menahan suku bunga.

"Sudah kelihatan tanda-tanda awal investasi akan recover di 2019 setelah pelemahan yang cukup signifikan di 2018," kata Thomas.

Sementara itu Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, sektor industri tahun ini tumbuh cukup baik. Beberapa proyek besar di komoditas petrokimia dan baja mulai masuk dan berkembang tahun ini. Ia mencontohkan Krakatau Steel yang akan memproduksi lebih dari 10 juta ton hingga 2025.

"Ini pembicaraan sudah mulai dan masuk di controlling ekpansi. Nah ekspansi-ekspansi ini yang selama almost dua dekade ini tidak berhenti," kata Airlangga.

Komoditas petrokimia juga menunjukkan tanda kebangkitan, antara lain dengan penambahan cluster di Cilegon dan pembangunan smelter Freeport. Airlangga menyebut aksi tersebut memperlihatkan bahwa kenyamanan pelaku industri semakin tinggi. Ditambah lagi dengan geliat ekspor yang digenjot tahun ini, salah satunya yakni ekspor perdana produk pita lebar dan smarthome router ke Amerika Serikat (AS) oleh PT Sat Nusapersada.

"Itu menunjukkan bahwa selain China dan Vietnam, Indonesia bangkit kembali," kata Airlangga.



Close Ads X