2018, Ekspor Minyak Kelapa Sawit RI ke India Turun 12 Persen

Kompas.com - 06/02/2019, 20:33 WIB
Ilustrasi kelapa sawitAFP PHOTO / ADEK BERRY Ilustrasi kelapa sawit

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekspor minyak kelapa sawit ( CPO) Indonesia ke sejumlah negara menurun di 2018. Tercatat, penurunan itu terjadi salah satunya di India.

Pada 2018, ekspor CPO Indonesia ke India menurun 12 persen ketimbang 2017 lalu. Pada tahun lalu, Indonesia hanya mengekspor 6,71 juta ton CPO ke India, sedangkan di 2017 lalu jumlah ekspor Indonesia mencapai 7,63 juta ton.

"Penurunan impor minyak sawit Indonesia dibukukan oleh India 12 persen (2018 7,63 juta ton; 2017 6,71 juta ton), negara-negara Timur Tengah 9 persen (2018 1,94 juta ton; 2017 2,12 juta ton) dan Uni Eropa 5 persen (2018 4,78 juta ton; 2017 5,03 juta ton)," ujar Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono di Jakarta, Rabu (6/2/2019).

Baca juga: Sumbangan Devisa dari Kelapa Sawit Turun Selama 2018

Joko menjelaskan, penyebab turunnya impor India di 2018 sebagai akibat dari kebijakan pemerintah India yang menaikan bea masuk impor CPO 44 persen dan refined products 54 persen yang mulai berIaku sejak 1 Maret 2018.

Pemberlakuan regulasi ini telah menyebabkan impor minyak sawit India menurun tajam, khususnya di bulan April dan Mei.

"Keadaan mulai membaik setelah India mengalami perselisihan dagang dengan Amerika Serikat yang berujung pada India melaporkan kasus perselisihan dagang ke WTO dan menaikkan tarif bea masuk kedelai," kata Joko.

Baca juga: 2018, Indonesia Ekspor 34,71 Juta Ton Minyak Kelapa Sawit

Adapun ke negara lainnya, ekspor CPO secara tahunan mengalami kenaikan khususnya China, Banglades, Pakistan, negara-negara Afrika dan Amerika Serikat.

Tahun 2018 China membukukan peningkatan impor mencapai 4,41 juta ton atau naik 18 persen dibandingkan dengan tahun Ialu sebesar 3,73 juta ton. Peningkatan impor diikuti Banglades 16 persen, negara-negara Afrika 13 persen, Pakistan 12 persen dan Amerika Serikat 3 persen.

"Dengan demikian kita berhasil mendiversifikasi pasar yang harus terus dikembangkan supaya banyak pilihan pasar di samping memperjuangkan pasar lama seperti Eropa dan India," ucap dia.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X