Bappenas: Indonesia Perlu Genjot Sektor Manufaktur

Kompas.com - 08/02/2019, 12:00 WIB
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang BrodjonegoroKOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Broedjonegoro mengatakan, meningkatkan sektor manufaktur sangat penting agar Indonesia dapat menjadi negara perekonomian berpenghasilan menengah ke atas.

Hal tersebut dikemukakan Bambang saat peluncuran studi bertajuk 'Kebijakan untuk Mendukung Pembangunan Sektor Manufaktur Indonesia 2020-2024' yang dipublikasikan bersama Asian Development Bank (ADB).

"Indonesia ingin menjadi perekonomian berpenghasilan menengah-atas dalam Iima belas tahun ke depan. Temuan dalam Iaporan ini mengindikasikan bahwa struktur perekonomian Indonesia, yang masih berbasis pertanian, sumber daya alam, serta manufaktur dan jasa sederhana, tidak memungkinkan kita untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi,” ujar Bambang di kantornya di Jakarta, Jumat (8/2/2019).

Baca juga: Harga Komoditas Fluktuatif, RI Harus Fokus Kelola Industri Manufaktur

Bambang menilai pembangunan sektor manufaktur yang canggih menjadi penting agar pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih optimal dalam jangka menengah dan panjang.

Sektor manufaktur Indonesia saat ini tidak terdiversifikasi dan hanya mengekspor jenis produk yang relatif sedikit. Ekspor utama Indonesia adalah sumber daya alam yang belum diproses dan barang manufaktur sederhana.

Ini sangat berbeda dengan produk kompleks dan berniIai tinggi yang diekspor oleh perekonomian maju, seperti mesin, bahan kimia, atau produk elektronik.

Baca juga: Tahun Politik, Menperin Optimistis Industri Manufaktur Berjaya

Perusahaan Indonesia sudah terhubung dengan rantai nilai global, tetapi kebanyakan hanya sebagai pemasok sumber daya alam. Selain itu, porsi lapangan kerja manufaktur dalam lapangan kerja keseluruhan saat ini Iebih rendah dibandingkan negara-negara Asia berpenghasilan tinggi puluhan tahun lalu.

Sekitar 99 persen dari perusahaan manufaktur di Indonesia berukuran mikro atau kecil, sedangkan sektor makanan menjadi pemberi kerja terbesar di Indonesia.

"Laporan ini menjadi landasan yang kokoh bagi para pengambil kebijakan Indonesia agar mulai mengkaji kebijakan yang perlu dilaksanakan guna mendukung pembangunan Indonesia dalam jangka menengah dan panjang," kata Bambang.

Baca juga: Sektor Manufaktur dan Ekspor Asia Loyo, Ada Apa?

Laporan yang dibuat Bappenas bersama ADB ini menganalisis prospek pertumbuhan Indonesia selama 2020-2024, khususnya apakah tingkat pertumbuhan 7 persen dapat dicapai atau tidak.

Lebih Ianjut, Iaporan ini membahas cara-cara mendiversifikasikan dan meningkatkan sektor manufaktur Indonesia, pendekatan bagi pemerintah untuk memodernisasi kebijakan industrinya, serta peran kebijakan fiskal dan moneter dalam mendukung tingkat pertumbuhan lebih tinggi.

Untuk mencapai penghasilan yang lebih tinggi, penting bagi Indonesia untuk mengembangkan berbagai ceruk dalam kegiatan manufaktur dengan kompleksitas dan bernilai tambah tinggi.

Baca juga: Indeks PMI Indonesia Naik, Pemerintah Genjot Industri Manufaktur

Laporan tersebut juga menggarisbawahi pentingnya meningkatkan produktivitas di Indonesia, mendukung diversifikasi produk, serta menciptakan kaitan kuat antara perusahaan besar dengan usaha kecil dan menengah, dan juga antara perusahaan domestik dengan pasar internasional.




Close Ads X