Kompas.com - 08/02/2019, 17:06 WIB
Buruh memanen kelapa sawit di Desa Sukasirna, Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (13/7/2018). ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISIBuruh memanen kelapa sawit di Desa Sukasirna, Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (13/7/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Sempat menguat kemarin, harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali melemah pada perdagangan dunia. Pernyataan Presiden Trump terkait perang dagang jadi sentimen utama pelemahan harga CPO saat ini.

Mengutip Bloomberg, pukul 15.08 WIB harga kontrak pengiriman April 2019 di Malaysia Derivative Exchange pada pukul 16.20 WIB di level RM 2.296 per metrik ton, turun 0,94 persen dari sehari sebelumnya yang ada di level 2.318 ringgit per metrik ton.

Mengutip Kontan.co.id, Jumat (8/2/2019), analis Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan mengatakan pelemahan harga CPO pada perdagangan disebabkan oleh tiga faktor.

Pertama, kecemasan pelaku pasar terhadap kelanjutan perang dagang Amerika Serikat dan China. Kekhawatiran pasar timbul karena pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan bahwa dirinya tidak berniat untuk bertemu dengan Presiden China Xi Jinping sebelum tenggat waktu 1 Maret untuk mencapai kesepakatan.

“Dengan tidak adanya niat untuk bertemu maka pelaku pasar khawatir bahwa perang dagang tidak ada kesepakatan. Ini juga bisa menimbulkan tekanan bagi pelaku pasar,” ujar Yudi, Jumat (8/2/2019).

Selain persoalan perang dagang, Yudi bilang faktor kedua penyebab lemahnya harga CPO yakni pembatasan ekspor CPO ke negara kawasan Uni Eropa. Dia menyebut dengan adanya pembatasan akan menurunkan permintaan sehingga harga kembali melemah.

Terakhir faktor pelambatan ekonomi global. “Sebelumnya International Monetary Fund (IMF) memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global dari sebelumnya 3,7 persen menjadi 3,5 persen pada 2019 dan 3,6 persen pada 2020. Hal ini turut menekan harga minyak sawit mentah,” tandasnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Karena ketiga faktor tersebut, Yudi meyakini harga CPO masih dalam tren pelemahan. Apalagi, Dia menegaskan sebelum ada titik terang dari perang dagang, harga komoditas termasuk CPO akan bergejolak. Hanya saja, Yudi melihat bahwa besok harga CPO bisa menguat tipis karena harga CPO yang sempat melemah awal minggu ini.

“Bisa menguat karena ada aksi profit taking dan sempat melemah juga awal minggu. Tetapi tren harga CPO melemah karena perang dagang itu sendiri,” imbuh Yudi.

Yudi memperkirakan, sepekan ke depan harga CPO diproyeksi bergerak di angka 2.200-2.400 ringgit per metrik ton.

Secara teknikal, Yudi melihat harga CPO bergerak di atas garis MA 50 dan MA 100. Lalu indikator stochastic bergerak turun di area 84,93, kemudian indikator RSI naik di area 55,85. Dari seluruh indikator menunjukkan harga CPO masuk dalam tren melemah. Yudi merekomendasikan buy on dips. (Jane Aprilyani)

 

Berita ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul: Harga CPO kembali melemah, berikut pemicunya

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber KONTAN
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.