Di Asia Pasifik, Transaksi di Kantor Cabang Bank Tinggal 12 hingga 21 Persen

Kompas.com - 11/02/2019, 19:04 WIB
Ilustrasi bankThinkstockphotos.com Ilustrasi bank

JAKARTA, KOMPAS.com - Penggunaan smartphone atau ponsel pintar yang semakin masif perlahan mulai mengubah cara nasabah dalam menggunakan layanan keuangan.

Berdasarkan survei Personal Financial Services (PFS) di Asia yang dilakukan McKinsey, transaksi perbankan yang dilakukan melalui kantor cabang fisik tinggal 12 hingga 21 persen per bulannya di Asia. Padahal, selama ini, kantor cabang fisik telah menjadi wadah untuk melibatkan nasabah-nasabah tradisional yang belum tersentuh digitalisasi.

"Nasabah kini lebih memilih platform digital untuk transaksi rutin sederhana seperti pengecekan saldo, transfer ke sesama nasabah, atau pembayaran tagihan," ujar Partner McKinsey Indonesia Guillaume de Gantes di Jakarta, Senin (11/2/2019).

Baca juga: Idealnya Jumlah Bank di Indonesia 50 sampai 70...

Lalu lintas transaksi perbankan melalui internet yang berkembang begitu pesat menjadi salah satu faktor terbesar susutnya transaksi perbankan di kantor cabang yang kini mulai bergeser ke digital, terutama melalui smartphone.

Penetrasi perbankan digital di negara-negara berkembang Asia meningkat 1,5 kali hingga 3 kali lipat dari 2014 hingga 2017. Persentase nasabah yang aktif digital di kawasan negara berkembang Asia telah tumbuh dua kali lipat menjadi 25 persen dari populasi sejak 2014 lalu.

Sementara untuk negara maju Asia telah mencapai 85 persen dari populasi atau tumbuh 1,2 kali.

"Tren ini menunjukkan peningkatan relevansi channel digital untuk operasional nasabah sehari-hari," sebut de Gantes.

Baca juga: Sepanjang 2018, Kredit Perbankan Tumbuh 12,9 Persen

Bahkan untuk Indonesia, pertumbuhan nasabah perbankan yang aktif secara digital mencapai 2,5 kali lipat atau sebanyak 32 persen dari populasi.

Dalam waktu tiga tahun, pertumbuhan nasabah perbankan digital di Indonesia setiap bulannya lebih cepat dua kali lipat dibandingkan negara berkembang Asia lain. Sebanyak 55 persen nasabah yang belum menggunakan layanan digital mengatakan mereka akan mempertimbangkan penggunaan layanan digital dalam jangka waktu enam bulan ke depan.

"Survei ini juga mengindikasikan adanya kemungkinan untuk para pemain perbankan digital murni, di mana 50 persen responden mempertimbangkan untuk pindah ke bank yang sama sekali tidak memiliki cabang fisik, dan sebagain besar dari responden tersebut akan memindahkan 25 persen hingga 50 persen tabungannya ke bank digital murni," ujar de Gantes.

Baca juga: Banyak Tantangan, Bank BUMN Pede Pertumbuhan Kredit Bisa 15 Persen

Sebagai catatan, survei PFS yang dilakukan McKinsey dilakukan untuk membahas perubahan perilaku nasabah dengan adanya digitalisasi di lanskap transaksi keuangan, termasuk dengan masuknya teknologi keuangan (financial technology/fintech) atau transaksi non perbankan.

Pada survei ini, McKinsey mengumpulkan data dari 17.000 responden yang berasal dari 15 negara kawasan Asia Pasifik meliputi Australia, China, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Myanmar, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.



Close Ads X