Mengapa Masih Banyak UMKM Indonesia yang Belum "Go Digital"?

Kompas.com - 12/02/2019, 15:22 WIB
Ilustrasi digitalSHUTTERSTOCK Ilustrasi digital

JAKARTA, KOMPAS.com - Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM) disebut sebagai penopang ekonomi Indonesia. Namun, di tengah digitalisasi yang pesat, UMKM di Tanah Air belum bisa memaksimalkan peluang itu untuk meningkatkan bisnisnya.

Pengamat ekonomi digital Yudi Candra menjelaskan, hingga akhir tahun 2018 lalu, jumlah usaha mikro di Indonesia mencapai 58,91 juta dan usaha kecil 59.260. Adapun jumlah usaha menengah mencapai 4.987.

Akan tetapi, yang sudah go digital baru 5 persen. Sisanya masih sangat konvensional dalam pengembangan usahanya.

“Kalau di Amerika Serikat sudah 90 persen yang sudah go digital, Indonesia baru sekitar 5 persenan saja,” kata Yudi dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Baca juga: Gubernur BI Minta Sarjana Ekonomi Majukan Ekonomi Digital dan UMKM

Menurut Yudi, ada beberapa faktor yang menyebabkan UMKM Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan usaha. Faktor tersebut adalah permodalan, sumber daya manusia (SDM), dan akses pasar.

Yudi menuturkan, masih banyak pelaku UMKM yang belum bisa memanfaatkan hiruk pikuk kemudahan promosi yang bisa dilakukan di media berbasis online seperti media sosial. Menurut dia, ini karena minimnya pendampingan dari pemerintah akan pemahaman tentang digitalisasi, dan potensi media sosial sebagai sarana promosi.

“Masih banyak sekali pelaku usaha yang belum membuat medsos, bahkan tidak sedikit pula yang sudah punya hanya saja tidak bisa mengoperasikan karena dibuatkan orang. Lantas bagaimana mereka bisa mempromosikan produknya kalau tidak punya akun atau tidak mengoperasikan medsos?" paparnya.

Untuk itu, pemerintah diharapkan mulai memberikan perhatian lebih terhadap UMKM nasional guna mendongkrak ekonomi nasional dan meningkatkan taraf kehidupan masyarakat luas.




Close Ads X