Credit Suisse dan JP Morgan "Saling Berbantahan" soal Market RI, Bagaimana Komen Analis?

Kompas.com - 14/02/2019, 06:09 WIB
Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (21/5/2018). KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGSuasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (21/5/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pada Selasa (12/2/2019), Credit Suisse menyebut saatnya jual aset di Indonesia karena memasuki fase underperformance. Sementara, JP Morgan dalam global market outlook 2019 menyebut, Indonesia sebagai salah satu top pick investasi di emerging market.

Bagaimana investor menyikapi sentimen rekomendasi dari kedua bank investasi raksasa milik asing tersebut?

Mengutip Kontan.co.id, Kamis (14/2/2019), analis Reliance Sekuritas Kornelis Wicaksono berpendapat, investor terutama yang besar dan institusional, lazimnya akan menggunakan pandangan sejumlah riset terkemuka untuk menentukan arah investasinya.

“Hal ini mereka lakukan untuk mencari pandangan umum ke mana investasi mereka harus diarahkan. Misal dari tiga pandangan mengatakan buy dan hanya satu sell, maka secara konsesus arah investasi adalah buy,” jelasnya, Rabu (13/2/2019).

Managing Director Head of Equity Capital Market Samuel International Harry Su mengatakan, pengaruh rilis Credit Suisse dan JPMorgan tersebut bergantung pada pandangan masing-masing investor. “Kalau setuju, jual. Kalau tidak, bisa juga malah beli,” ujarnya kepada Kontan.co.id.

Sementara analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai, aksi saling bantah antar ‘raksasa’ tersebut akan membuat investor kebingungan. Namun, kata William, mengenai pendapat mana dari kedua bank investasi asing tersebut yang tepat akan dibuktikan oleh pasar itu sendiri.

“Cara melihatnya mudah. jika investor asing banyak net sell setelah mereka (Credit Suisse) downgrade, maka mereka yang benar dan investor asing lainnya biasanya akan menyusul aksi jual. Tapi jika mereka salah, kita akan melihat masih adanya nett buy investor asing dalam jumlah besar. Yang perlu diperhatikan adalah respons pasarnya, apakah terlihat ada kepanikan atau tidak,” jelas William kepada Kontan.co.id.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kornelis menyebut, sentimen downgrade dari Credit Suisse tersebut hanya akan mempengaruhi investor asing dalam jangka pendek.

“Karena jika ada yang menggunakan pandangan Credit Suisse untuk menentukan arah investasinya, mereka akan segera rebalancing portofolionya,” ujar Kornelis.

Senada, Harry bilang, sentimen tersebut bisa bertahan dua sampai tiga pekan. “Karena aksi jual kadang kala memerlukan board meeting untuk institutional investor asing. Prosesnya bisa dua minggu dan baru setelah itu mereka bisa aksi jual,” katanya.

Halaman:


Sumber KONTAN
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X