Pengamat: Kalau Kereta Cepat Jakarta-Bandung Batal yang Sedih Meikarta

Kompas.com - 15/02/2019, 14:56 WIB
Lokasi proyek pengerjaan kereta cepat Jakarta-Bandung di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (21/3/2018). KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERALokasi proyek pengerjaan kereta cepat Jakarta-Bandung di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (21/3/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat transportasi, Dharmaningtyas menentang pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung. Menurut dia, pembangunan proyek tersebut tak efektif.

"Kalau misalnya (rutenya) Jakarta-Semarang atau Jakarta-Surabaya mungkin itu akan menarik demand, tapi kalau cuma Jakarta-Bandung dengan tarif misalnya Rp 200.000, saya kira orang akan lebih memilih naik kereta biasa, asal kereta biasanya ditambah frekuensinya. Jadi kereta cepat Jakarta-Bandung lupakan saja," ujar Dharmaningtyas di Jakarta, Jumat (15/2/2019).

Dharmaningtyas menilai progres pembangunan itu hingga kini masih minim. Padahal, proyek tersebut sudah dikerjakan sejak tiga tahun lalu.

Menurut dia, jika proyek ini tak jadi dilanjutkan yang akan dirugikan adalah pihak swasta. Sebab, salah satu pengembang properti Meikarta telah mempromosikan moda transportasi tersebut kepada calon pembelinya.

"Saya tidak punya harapan untuk merujuk, yang punya harapan kan Meikarta. Meikarta sudah terlanjur promosi moda itu, kalau enggak jadi yang sedih Meikarta," kata Dharmaningtyas.

Baca juga: Penghentian Pengerjaan Proyek Kereta Cepat dan LRT Jabodebek Hanya di Area Ini

Dharmaningtyas menuturkan, progres pembangunan proyek tersebut saat ini baru sekitar 8 persen. Menurut dia, proyek tersebut tak akan rampung di 2021.

"Enggak mungkin. Kenapa, kontruksinya aja sekarang belum mulai. Belum lagi pembebasan lahannya, lahannya karena masyarakat sudah tahu proyek itu, mereka jadi lewat calo-calo tanahnya. Costnya besar sekali," ucap dia.

Sebagai informasi, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) merupakan investor dalam proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung.

Sebanyak 60 persen kepemilikan saham KCIC dimiliki oleh konsorsium lokal melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia, sedangkan 40 persen sisanya dimiliki oleh konsorsium China, yakni Beijing Yawan HSR Co. Ltd.

Dari kepemilikan konsorsium lokal tersebut, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA menguasai saham terbesar yakni 38 persen, kemudian PT Kereta Api Indonesia (KAI) 25 persen, PT Perkebunan Nusantara VIII sebesar 25 persen dan PT Jasa Marga Tbk sebesar 12 persen.

Nilai investasi megaproyek tersebut sekitar Rp 80 triliun dengan pemenuhan pembiayaan 75 persen atau Rp 60 triliun dari utang melalui China Development Bank. Sedangkan 25 persen sisanya yakni Rp 20 triliun dipenuhi dari ekuitas KCIC.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X