Kementerian BUMN: Investor Makin PD Masuk ke Infrastruktur

Kompas.com - 19/02/2019, 12:02 WIB
Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN, Aloysius Kiik Ro saat membuka acara seminar nasional Kebangkita BUMN Sektor Infrastruktur di Jakarta, Selasa (19/2/2019). KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN, Aloysius Kiik Ro saat membuka acara seminar nasional Kebangkita BUMN Sektor Infrastruktur di Jakarta, Selasa (19/2/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN, Aloysius Kiik Ro mengatakan, dalam empat tahun terakhir, kolaborasi antarperusahaan BUMN dalam pembangunan infrastruktur semakin baik. Hal ini membuat iklim investasi bidang infrastruktur semakin membaik karena memunculkan kepercayaan investor untuk masuk ke sejumlah proyek infratruktur.

"Ini yang belum terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Kita berhasil membangun confidence investor untuk kerja sama dengan BUMN," ujar Aloysius saat membuka seminar nasional Kebangkitan BUMN Sektor Infrastruktur di Jakarta, Selasa (19/2/2019).

Selain itu, angka kemudahan berusaha juga meningkat sehingga menarik investor untuk masuk ke sejumlah proyek pembangunan. Aloysius optimistis ke depannya iklim investasi di sektor infrastruktur semakin positif.

Terkait sektor ini, pada 2018, setidaknya ada 14 BUMN yang terlibat dengan 26 partner dari dalam maupun luar negeri. Mereka berkontribusi dalam 19 proyek.

Baca juga: Jokowi Janji Benahi Infrastruktur Laut, Prabowo Ingin Bikin BUMN Khusus Laut

"Total nilai 19 proyek itu 13,5 miliar dollar AS," kata Aloysius.

Anggaran tersebut antara lain untuk pembangunan jalan tol dengan alokasi 2,7 miliar dollar AS, pertambangan sebesar 1,2 miliar dollar AS, serta proyek lain senilai 9,4 miliar dollar AS. Belum lagi proyek-proyek untuk petrokimia dan energi bersih.

Selaon itu, dalam dua hingga toga tahun terakhir, BUMN membuat pembiayaan alternatif dengan mengandalkan instrumen perbankan.

Sebelumnya, pemerintah hanya mengandalkan penerbitan global bond, domestic IDR bond, global equity offering, dan kredit perbankan. Ke depannya ada berbagai alternatif pembiayaan seperti perbankan syariah, greend bonds, hingga bonds infrastruktur BUMN.




Close Ads X