Menakar Keuntungan Joint Venture Trans Media dengan Perusahaan Hiburan Korea

Kompas.com - 21/02/2019, 11:40 WIB
Pemilik CT Corp Chairul Tanjung di Hotel Sahid, Jakarta, Senin (14/1/2019)Kompas.com/YOGA SUKMANA Pemilik CT Corp Chairul Tanjung di Hotel Sahid, Jakarta, Senin (14/1/2019)

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Trans Media Corpora menggandeng SM Entertainment Group, perusahaan hiburan terkemuka di Korea Selatan melalui kerja sama joint venture. Kerja sama ini meliputi empat bidang usaha, yakni talent management, produksi konten, digital, dan lifestyle.

Chairman CT Corp Chairul Tanjung mengatakan, kerja sama tersebut menguntungkan bagi Indonesia untuk mendongkrak industri hiburan dalam negeri. Tak hanya itu, dengan bantuan SM Entertainment yang sudah memiliki nama di dunia, bisa mendorong artis dalam negeri ke kancah internasional.

"Mereka tidak hanya melihat Indonesia sebagai pasar. Tapi kewajiban membuat new wave Indonesia Pop, namanya I-Pop. Seperti K-Pop," ujar Chairul di Jakarta, Kamis (21/2/2019).

Chairul berharap tersebut dapat memberikan manfaat positif bagi kedua negara, khususnya di bidang ekonomi kreatif. Sebab, industri tersebut saat ini tengah dikedepankan sebagai salah satu pilar pertumbuhan ekonomi.

"Kita harap kerjasama ini bukan hanya memberi kesempatan artis Korea berkarya di Indonesia, tapi mengangkat hasil karya dan budaya Indonesia juga artis di mata dunia," kata Chairul.

Korea, kata Chairul, berhasil menjadikan ekonomi kreatif sebagai pilar pembangunan ekonomi di negaranya. Diketahui, K-Pop mampu menghasilkan devisa ekspor bagi Korea Selatan sebesar 8,2 miliar dollar AS. Selain itu, artis K-Pop juga menjadi salah satu daya tarik negara ginseng tersebut bagi para turis.

"Kita mau mengikuti jejak Korea menjadikan ekonomi kreatif menajdi pilar penting dalam pembangunan bangsa," kata Chairul.

Meski begitu, Chairul belum menargetkan berapa besar devisa yang bisa dihasilkan dengan adanya kerja sama ini. Pembagian tugas pada joint venture ini yakni bidang digital dan lifestyle dipegang Trans Media, sementara untuk produksi konten dan manajemen talenta diserahkan ke SM Entertainment yang sudah matang di industri ini.

"Prinsipnya lebih pada software, karena bisnis entertainment berbeda dengan bisnis fisik. Lebih pada kreatifitas," kata Chairul.



Close Ads X