Membangun Brand yang "Spark Joy"

Kompas.com - 22/02/2019, 09:46 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi

ISTILAH “spark joy” belakangan semakin populer seiring dengan meningkatnya popularitas Marie Kondo, sang ahli bersih-bersih barang rumah, yang serialnya makin terkenal di Netflix.

Marie Kondo menggunakan istilah itu ketika membantu orang memutuskan barang mana yang ingin disimpan dan mana yang perlu disingkirkan. Dia akan bertanya, “Does it spark joy?”, alias, "Apakah barang itu akan membuat Anda bahagia?"

Begitu terpikatnya dengan istilah spark joy, banyak netizen yang sampai membuat parodi menggunakan pertanyaan “does it spark joy?” dalam berbagai hal, mulai dari urusan memilih pasangan hidup, menghibur diri sendiri, memilih teman, hingga beragam urusan lain.

Baca juga: Rajin Beres-beres Rumah karena Pengaruh Marie Kondo

Memang lucu melihat semua parodi spark joy yang ada. Namun, bagi seorang pembuat brandpertanyaan “does it spark joy?” sebenarnya adalah pertanyaan mendasar yang harus dijawab dan dibuktikan.

Fungsi dasar brand

Di tengah hiruk pikuk dunia brand dan komunikasi, orang memang sering lupa apa fungsi dasar sebuah brand. Banyak orang melihat brand lebih kepada urusan logo dan urusan iklan. Padahal, secara esensi, brand adalah alat untuk membantu konsumen dalam memilih.

Salah satu legenda asal muasal penggunaan konsep brand adalah dari masa koboi di Amerika Serikat. Kala itu, para koboi kesulitan membedakan sapi milik mereka dengan sapi milik koboi yang lain.

Akhirnya, para sapi diberi tanda untuk menandakan kepemilikan dan membedakan satu sama lain. Dari situ, konsep brand berkembang, dari sekadar pembeda menjadi faktor yang membantu konsumen memilih.

Bayangkan Anda pergi ke pasar untuk membeli susu. Lalu di pasar itu ada banyak penjual susu dan membuat pilihan Anda menjadi semakin rumit.

Memang akan ada orang yang memilih susu dengan melihat apa komposisi susunya, seberapa banyak gulanya atau soal keamanan kandungan nutrisinya. Namun, kebanyakan orang akan lebih memilih jalan pintas dengan memilih susu yang brand-nya sudah mereka kenal.

Sama seperti kita memilih mobil. Hanya sedikit yang akan memilih mobil dengan mempertimbangkan jenis busi dan sistem pembakaran-nya.

Baca juga: Pilih Mobil Bekas dengan Banderol di Bawah Rp 100 Juta

Mayoritas orang pada akhirnya berpikir sederhana dengan melihat brand-nya. Seperti, apakah itu mobil keluaran Toyota yang sudah banyak digunakan orang atau mobil keluaran Ford—perusahaan yang sempat menutup kantornya di Indonesia.

Contoh lebih anyar lagi bisa dilihat di masa pemilihan umum legislatif. Untuk tingkat DPR saja total ada 7.968 calon legislatif (caleg), dengan rata-rata di setiap daerah pemilihan ada sekitar 90 orang caleg.

Dalam kondisi yang begitu banyak pilihan, brand akan sangat berguna ketika digunakan sebagai alat bantu memilih. Karenanya, brand jangan hanya dianggap urusan desain kaos saja.

Membeli untuk merasa bahagia

Terlebih lagi, ada analisa lama yang mengatakan bahwa orang membeli atau mengkonsumsi sesuatu untuk merasakan kebahagiaan.

Seperti membeli tas, ketika dihadapkan dengan dua tas serupa, banyak orang akan memilih berdasarkan pembelian yang bisa membuat dia merasa bahagia.

Penyebab rasa bahagia itu beragam. Bisa, misalnya, karena faktor harga, yaitu merasa bahagia karena berhasil membeli tas bagus dengan harga yang murah.

Atau, bahagia untuk faktor persepsi. Seseorang bisa merasa bahagia karena dilihat orang lain memakai tas yang reputasi brand-nya terkenal.

Inilah yang harus diingat seseorang yang sedang atau akan membangun sebuah brand. Yaitu, apa faktor dari brand tersebut yang dapat membuat orang sebagai konsumen merasa bahagia.

Ilustrasi brandingTHINKSTOCKS/TUMSASEDGARS Ilustrasi branding

Konsep itu berlaku untuk brand dari banyak jenis produk maupun jasa.

Contoh, brand sebuah restoran. Sang pemilik restoran perlu menentukan apa yang ditawarkannya yang dapat membuat konsumennya bahagia. Apakah itu rasa makanannya yang enak? Apakah itu suasana restorannya? Atau bahkan bisa faktor pamor yang ditawarkan?

Bahkan, itu mungkin bisa sesederhana fakta bahwa orang dapat menggunakan wi-fi gratis jika makan di restorannya. Atau, mungkin campuran dari beberapa atau semua faktor, seperti makanannya enak dan bisa menggunakan wi-fi gratis.

Fondasi membangun brand yang spark joy

Untuk dapat membangun brand yang spark joy, setidaknya ada tiga hal mendasar yang harus diperhatikan.

Pertama, sang pemilik brand harus memahami betul apa saja yang dapat membuat seorang konsumen merasa bahagia. Kemudian, dia harus memutuskan target konsumen mana yang ingin disasar.

Dalam contoh restoran, jika kita sudah memutuskan ingin menyasar konsumen yang memang akan menemukan kebahagiaan dengan mendapat makanan yang enak, maka kita tidak perlu lagi merasa gelisah jika orang-orang yang mencari wi-fi gratis tidak datang ke restoran kita.

Kedua, setelah memahami apa yang membuat konsumen merasa bahagia dan tipe konsumen yang ingin disasar, sang pemilik brand harus selalu konsisten. Sebab, ada tendensi kita ingin selalu mendapatkan pembeli sebanyak-banyaknya.

Baca juga: Tempat Makan Menjamur di Jakarta, Ini Tips Memilih Restoran yang Tepat

Kita harus selalu dapat membedakan antara "menarik banyak pembeli" dan "menarik semua tipe pembeli". Sebab, pembeda itu—walaupun sederhana—akan dapat mempengaruhi efektivitas promosi atau komunikasi brand.

Konsistensi di sini bukan hanya sebatas dalam hal promosi atau komunikasi, melainkan juga soal konsistensi dari keunggulan produk atau jasa yang ditawarkan.

Ketika kita sudah memantapkan diri menjual makanan yang enak, kita harus benar-benar konsisten menjaga agar rasa makanan kita selalu enak. Karena, itulah janji kita kepada konsumen untuk membuatnya merasa bahagia.

Ketiga, sang pemilik brand harus selalu menemukan terobosan baru. Sebab, ingat bahwa orang mudah bosan.

Coba saja kita makan satu tipe makanan yang sama selama seminggu berturut-turut. Maka, pada umumnya tingkat kebahagiaan yang kita rasakan akan semakin menurun dengan setiap konsumsi.

Jadi, harus selalu ada terobosan baru yang dapat ditawarkan kepada konsumen agar sebuah brand bisa tetap spark joy.

Ketiga hal tersebut adalah hal mendasar. Masih banyak lagi yang dapat kita lakukan untuk membangun brand yang spark joy.

Seperti sebuah bangunan, jika fondasi tidak kuat maka akan mudah rubuh bangunannya. Maka, tanyakanlah ke diri Anda sendiri, bagaimana brand Anda atau Anda dapat membuat orang merasa bahagia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X