Meluruskan Pemahahaman Nilai Tukar Petani, Harga dan Produktivitas

Kompas.com - 14/03/2019, 18:25 WIB
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan), Pending Dadih Permana sedang mencoba combine harvester, kendaraan panen padi, Dok. Humas Kementerian Pertanian RI Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan), Pending Dadih Permana sedang mencoba combine harvester, kendaraan panen padi,

Produksi padi meningkat selain akibat meningkatnya luas panen, juga membaiknya produktivitas padi. Berbagai inovasi teknologi (benih, pupuk, irigasi, alsitan) diterapkan petani untuk meningkatkan produktivitas dan produksi padi.

Pada Februari 2019 diperkirakan ada sebanyak 7,8 juta ton GKG yang dihasilkan petani dan meningkat sekitar 77,96 persen dibandingkan Januari. Walaupun turun, harga gabah yang diterima petani juga masih jauh di atas HPP yang ditetapkan pemerinta sehingga cukup memberikan insentif ekonomi bagi petani untuk tetap berproduksi.

Dengan mencermati kondisi di atas, patut dicermati bahwa menurunnya harga gabah yang diterima petani tidak serta merta menurunkan pendapatannya, karena penurunan harga tersebut dapat dikompensasi oleh adanya peningkatan produktivitas dan produksi yang lebih tinggi.

Sebenarnya, menurunnya angka NTP petani Februari 2019 sekitar 0,37 persen relatif terhadap Januari 2019 bukanlah satu-satunya indikator yang bisa dipakai untuk dapat menentukan turunnya kesejahteraan petani. Karena sesuai konsepnya, NTP lebih menunjukkan perubahan daya beli petani (perbandingan relatif indek harga yang diterima dengan indek harga yang dibayar), tanpa mengkaitkannya dengan perubahan produksi/produktivitas.

Oleh karena itu, walaupun NTP relatif turun akibat menurunnya harga yang diterima petani, bisa saja, kesejahteraan petani meningkat, kalau pada saat yang sama produktivitas meningkat lebih tinggi.

Untuk menentukan kesejahteraan petani membaik atau memburuk, ada baiknya hal itu dilihat dari dua aspek. Pertama perubahan harga yang diterima petani, dan kedua perubahan volume yang diproduksi petani.

Cermat membaca analisa

Masih mengenai NTP, Direktur Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Bambang Sugiharto, mengingatkan agar masyarakat lebih cermat membaca analisa ekonom soal harga pangan.

Bambang juga meminta semua pihak, termasuk pengamat dan akademisi, lebih obyektif dalam mengeluarkan pernyataan-pernyataan ke ranah publik.

Mengungkapkan data inflasi bahan makanan dan Nilai Tukar Petani (NTP) yang hanya diulas pada Februari 2019 saja, tentu menjadi sangat bahaya, sedangkan pertanian terutama pangan bersifat musiman sehingga berfluktuasi antarbulan. Semestinya analisia dilihat dalam kurun waktu panjang.

"Enam bulanan, bahkan tahunan, sehingga bisa menggambarkan kondisi pertanian secara utuh. Tidak terpotong-potong seperti analisa dalam waktu sebulan," ujar Bambang, Rabu (13/3/2019).

Februari 2019 sudah memasuki panen raya, maka wajar jika harga gabah dan beras mengalami penyesuaian. Namun begitu, NTP 102,94 masih bagus, yakni di atas 100. Indikator yang lebih jelas menggambarkan kondisi usaha tani bisa dilihat dari Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) yang sebesar 111,18.

Halaman:


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorLatief

Close Ads X