Tak Ingin Jago "Kandang", Sehati TeleCT Sasar Tiga Benua Pasarkan Produk

Kompas.com - 23/03/2019, 20:30 WIB
Co-Founder dan CPO Sehati, Abraham Auzan (kiri) memberikan penjelasan tentang alat medis, TeleCTG di kantornya, Jakarta Selatan, Jumat (22/3/2019).KOMPAS.com/MURTI ALI LINGGA Co-Founder dan CPO Sehati, Abraham Auzan (kiri) memberikan penjelasan tentang alat medis, TeleCTG di kantornya, Jakarta Selatan, Jumat (22/3/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Perusahaan rintisan atau start up asal Indonesia, Sehati TeleCT menyasar pasar internasional atau dunia untuk memasarkan produknya.

Produknya ialah TeleCTG, yang merupakan perangkat medis diagnostik yang pertama dan satu-satunya di Indonesia.TeleCTG merupakan alat yang sudah alami peningkatan dari CTG konvensional, sehingga lebih terjangkau dan portebel.

Tak tanggung-tanggung, setidaknya tiga benua sekaligus yang disasar sekaligus yaitu Asia, Amerika, dan Afrika.

"Secara pangsa pasar seluruh dunia membutuhkan, khususnya negara berkembang. Asean, Afrika dan Amerika latin," kata Co-Founder dan CPO Sehati, Abraham Auzan belum lama ini di Jakarta.

Abraham mengatakan, perusahaannya sudah mendapatkan dan memperoleh izin produksi dari lembaga terkait pada November tahun lalu. Selain itu, produk TeleCTG kini sudah memiliki hak sehingga sudah layak dipasarkan.

"Jadi produksi segala macam mulai Desember 2018. Sekarang produk kita sudah digunakan di Kabupaten Kupang," tuturnya.

Dia menjelaskan, segala kegiatan produksi TeleCTG ini dilakukan di dalam negeri yang berada dua lokasi pabrik rekanan yang diajak kerja sama.

Untuk manufakturnya diproduksi di kawasan Cikarang dan untuk komponen chip-nya di kawasan Ciawi, Jawa Barat.

"Produksi sekarang ini memang kapasitasnya masih kecil. Baru ada sekitar 100 unit. Percobaan produksi besar itu (1.000 unit per tiga bulan) selesai Juni ini," sebutnya.

Produksi inovasi alat medis CTG ini ditargetkan bisa meningkat ke depanya, yakni mencapai 1.000 unit dalam sebulan. Sehingga bisa dipasarkan dan memenuhi permintaan pasar, baik pembeli perorangan maupun instansi.

"Memang kita juga sesuaikan dengan market. Kami juga ingin menambah kapasitas produksi kita sampai 1.000 per bulan. Melihat total market di Indonesia, ada 9.700 puskesmas, 47.000 bidan praktek mandiri, dan 2.000-an rumah sakit," sebutnya.

Meskipun sudah menergetkan pasar internasional, Abraham menuturkan, sejauh ini pihaknya masih fokus mamasarkan produk medis ini untuk Indonesia. Karena mereka didukung dan telah menjalin kerja sama bersama pemerintah, khususnya beberapa lembaga terkait seperti Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia (Kemendes PDTT) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan lainnya.

TeleCTG akan dijual dan digunakan untuk pusat layanan kesehatan, baik Rumah Sakit, Puskesmas, Bidan, maupun lainnya. Sebab, sangat cocok untuk di daerang tingkat dua melihat bobot dan TeleCTG sendiri.

Halaman:



Close Ads X