Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rudiyanto
Direktur Panin Asset Management

Direktur Panin Asset Management salah satu perusahaan Manajer Investasi pengelola reksa dana terkemuka di Indonesia.
Wakil Ketua I Perkumpulan Wakil Manajer Investasi Indonesia periode 2019 - 2022 dan Wakil Ketua II Asosiasi Manajer Investasi Indonesia Periode 2021 - 2023.
Asesor di Lembaga Sertifikasi Profesi Pasar Modal Indonesia (LSPPMI) untuk izin WMI dan WAPERD.
Penulis buku Reksa Dana dan Obligasi yang diterbitkan Gramedia Elexmedia.
Tulisan merupakan pendapat pribadi

Ini yang Terjadi pada Reksa Dana saat Indeks LQ45 dan IDX30 Dievaluasi

Kompas.com - 03/08/2020, 19:39 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KOMPAS.com - Selain Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), indeks saham acuan yang banyak dikenal dan digunakan oleh industri reksa dana sebagai acuan kinerja adalah LQ-45 dan IDX-30.

Tidak hanya sebagai acuan perbandingan kinerja, tapi juga sebagai acuan dalam penyusunan portofolio reksa dana saham.

Apakah perubahan anggota indeks saham ini berdampak terhadap pengelolaan reksa dana? Dan seperti apa dampak perubahannya?

Definisi

Menurut situs Bursa Efek Indonesia, LQ-45 adalah Indeks yang mengukur kinerja harga dari 45 saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.

Baca juga: Pandemi Covid-19, Ada 26 Perusahaan Melantai di Bursa Saham

IDX30 adalah indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.

Secara proses, dari IHSG disaring 45 saham paling likuid (LQ-45), kemudian dari 45 saham tersebut disaring lagi menjadi 30 saham yang disebut IDX-30. Dengan demikian, anggota saham yang menjadi anggota IDX-30 juga menjadi anggota daripada LQ-45.

Walaupun secara definisi, salah satu kriterianya adalah saham berfundamental baik, dari pengamatan dan praktek, kelihatannya porsi likuiditas dan kapitalisasi pasar lebih banyak menjadi faktor utama.

Yang dimaksud dengan likuiditas adalah transaksi jual beli di pasar reguler. Likuiditas yang tinggi artinya saham tersebut sangat aktif ditransaksikan.

Didukung dengan kapitalisasi (ukuran perusahaan) yang besar, anggota saham dalam IDX-30 dan LQ-45 biasanya juga merupakan saham yang banyak ditransaksikan oleh investor asing.

Anggota Indeks = Saham Bagus?

Apakah saham yang masuk dalam LQ-45 dan atau IDX-30 bisa dikategorikan sebagai saham yang bagus dan layak dikoleksi? Tergantung sudut pandangnya. Jika anda menginginkan saham yang likuid, maka sebaiknya memang saham anggota indeks ini yang jadi pilihan.

Sebaliknya jika anda menginginkan saham yang valuasinya murah, maka harus dilihat dulu harga dan laporan keuangan per sahamnya. Kecuali ada koreksi signifikan, cukup sulit untuk menemukan value stock di saham yang likuid.

Ada beberapa alasan, pertama karena likuid, valuasi / nilai pasar wajar dari saham diketahui secara umum karena banyak perusahaan sekuritas dan riset yang meneliti saham tersebut.

Kedua, ketika harga pasarnya di bawah harga wajar (undervalued), banyak investor segera membelinya karena masuk dalam daftar saham yang diminati banyak investor.

Apakah Daftar Saham Indeks Acuan Bisa Berubah?

IDX-30 dan LQ-45 merupakan salah satu produk indeks yang dikeluarkan oleh Bursa Efek Indonesia. Secara rutin, memang dilakukan evaluasi terhadap indeks tersebut.

Baca juga: Reksa Dana Apa yang Cocok Dipilih untuk Investor Pemula Saat Pandemi?

Setiap 3 dan 6 bulan, tim riset Bursa Efek Indonesia melakukan penyesuaian yang disebut evaluasi minor dan evaluasi mayor terhadap komposisi dan anggota daripada Indeks Acuan tersebut.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com