11 Pangeran Arab Saudi Ditangkap, Demi Reformasi Ekonomi? - Kompas.com

11 Pangeran Arab Saudi Ditangkap, Demi Reformasi Ekonomi?

Sakina Rakhma Diah Setiawan
Kompas.com - 06/11/2017, 12:45 WIB
Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman bin Abdulaziz Al Saud pada sebuah wawancara di televisi dalam acara peluncuran inverasi masa depan di Riyadh, Selasa (24/10/2017) waktu setempat. (FOX) Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman bin Abdulaziz Al Saud pada sebuah wawancara di televisi dalam acara peluncuran inverasi masa depan di Riyadh, Selasa (24/10/2017) waktu setempat. (FOX)

NEW YORK, KOMPAS.com - Otoritas Arab Saudi menangkap 11 pangeran dan puluhan menteri maupun mantan menteri yang diduga terlibat skandal korupsi.

Langkah ini adalah upaya pemberantasan korupsi sekaligus mengonsolidasikan kekuatan Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman.

Mengutip CNBC, Senin (6/11/2017), penangkapan besar-besaran itu dilakukan tak lama setelah Raja Salman mengumumkan dekrit pembentukan komite antikorupsi. Komite itu tak lain dikepalai oleh Pangeran Mohammed.

Lembaga baru tersebut diberikan wewenang yang luas untuk menginvestigasi kasus, menerbitkan surat penangkapan, mengeluarkan larangan bepergian, hingga membekukan aset.

(Baca: Sempat Melemah, Bursa Arab Saudi Menguat Usai Penangkapan 11 Pangeran)

Para analis menyatakan, tujuan penangkapan tersebut sebetulnya bukan hanya permasalahan korupsi.

Tujuan utamanya adalah menghilangkan potensi oposisi terhadap Pangeran Mohammed sejalan dengan upayanya mendorong agenda reformasi ekonomi yang ambisius dan kontroversial.

Pada September 2017 lalu, misalnya, ia mengumumkan kaum wanita boleh mengemudikan kendaraan bermotor. Pangeran Mohammed juga mencoba mendobrak tradisi konservatif selama puluhan tahun dengan mempromosikan hiburan publik dan kunjungan wisatawan asing.

Dalam kebijakan ekonomi, Pangeran Mohammed memangkas belanja pemerintah di sejumlah pos. Ia juga berencana menjual aset negara dalam jumlah besar.

"Pangeran Mohammed, daripada mendorong aliansi, malah memperluas pegangan besi ke keluarga penguasa, militer, dan Garda Nasional untuk melawan apa yang tampaknya merupakan oposisi yang lebih luas di dalam keluarga kerajaan serta militer terhadap reformasinya," kata James Dorsey dari S Rajaratnam School of International Studies, Singapura.

Seorang ekonom dari sebuah bank besar di Timur Tengah yang enggan disebutkan identitasnya mengemukakan, tidak ada seorangpun di Arab Saudi yang meyakini bahwa korupsi adalah akar penangkapan tersebut.

"Ini adalah tentang mengonsolidasikan kekuatan dan frustrasi bahwa reformasi tidak berlangsung cukup cepat," ujar dia.

Beberapa yang ditangkap antara lain mantan menteri keuangan dan anggota pimpinan BUMN minyak Saudi Ibrahim al-Assaf, menteri ekonomi Adel Fakieh, dan mantan gubernur Riyadh Pangeran Turki bin Abdullah.

Ditangkap pula Pangeran Alwaleed bin Talal. Ia adalah pebisnis, miliarder, dan investor yang dikenal secara internasional, di mana investasinya termasuk di Citigroup dan Twitter.

Kompas TV Raja Arab Saudi, Salman Bin Abdul Aziz Al-Saud, menunjuk 2 orang menteri baru di bidang keamanan dan ekonomi.


PenulisSakina Rakhma Diah Setiawan
EditorAprillia Ika
SumberCNBC

Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM