Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Dari 8.000 Hektar, Kebun Kakao Di Sebatik Susut Jadi 2.000 Hektar

Dari luasan 8.000 hektar kebun kakao pada tahun 2000, saat ini hanya tersisa 2.000 hektar saja.

Kepala Bidang perkeunan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Nunukan Eko Budi Santosa mengatakan, para petani lebih tertarik merubah kebun mereka dengan tanaman sawit yang menurut mereka lebih bernilai ekonomis.

“Alih fungsi lahan yang paling banyak itu, ada lahan sawit pisang,“ ujarnya Jumat (29/09/2017).

(Baca: Menjaga Asa Petani Kakao di Indonesia)

Menyusutnya luasan kebun kakao di Sebatik juga disebabkan harga kakao yang murah serta para petani kesulitan menjual hasil kebun kakao mereka.

Para petani kakao kesulitan menjual hasil kebun mereka ke wilayah Sulawesi maupun ke Surabaya karena selain ongkos transportasi mahal juga belum ada pedagang yang mau menampung kakao mereka.

Para petani kakao di Sebatik hanya bisa menjual hasil kebun mereka ke Kota Tawau di Malaysia dengan harga murah. “Di Tawau, kakao hasil para petani di Sebatik hanya dihargai Rp 12.000 hingga 21.000 per kilogram,"  kata dia.

Saat ini pemerintah kabupaten Nunukan berupaya memberikan pembinaan kepada petani kakao untuk kembali menggeluti komoditas kakao.

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal Dan Transmigrasi saat ini merencanakan menjadikan desa di Kecamatan Sebatik sebagai desa wisata kakao agar harga kakao di tingkat petani bisa meningkat.

https://ekonomi.kompas.com/read/2017/09/29/140000826/dari-8.000-hektar-kebun-kakao-di-sebatik-susut-jadi-2.000-hektar-

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke