Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Lion Air: Mungkin Kami Dianggap Perusahaan yang Kampungan Kali Ya...

Meski demikian, ia memastikan, Lion Air telah melakukan semua ketentuan dan arahan dari Boeing untuk melatih pilot B737 Max 8 menggunakan simulator pesawat B737 Next Generation (NG).

"Enggak mungkin dapat sertifikat pilot Max kalau kami tidak comply," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (28/11/2018).

Edward menyebut, dengan kalkulasi 11 pesawat B737 Max 8 dan setiap pesawat memiliki 8 pilot, Lion Air memilki sekitar 88 pilot yang sudah comply dengan pesawat jenis baru buatan Boeing tersebut.

Tak mungkin, kata dia, sebanyak 88 pilot, termasuk ada pilot asing di dalamnya, mendapatkan sertifikasi pilot B737 Max bila tidak memenuhi aturan yang ada.

Edward juga menambahkan, ada empat orang representasi Boeing di kantor Lion Air. Hal ini menunjukkan adanya pendampingan dalam pengoperasian pesawat dari pebrikan pesawat asal AS itu.

"Mungkin kami dianggap perusahaan kampungan kali ya. Tetapi yang jelas kami punya ada representatif dari Boeing dan sampai sekarang ada di sini. Saya enggak perlu sebut pabrik lain, tetapi itu ada," kata dia.

Sebelumya, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyoroti pesawat Lion Air PK-LQP sehari sebelum jatuh. Saat itu pesawat di terbangkan dari Denpasar ke Jakarta.

Sebelum berangkat, saat melakukan pemeriksaan pre-flight, pilot in command (PIC) melakukan diskusi dengan teknisi terkait tindakan perawatan pesawat udara yang telah dilakukan termasuk adanya informasi bahwa sensor Angle of Attack (AoA) yang diganti dan telah diuji.

Pesawat udara berangkat pada malam hari pukul 22.20 WITA. Sesaat sebelum lepas landas (rotation), digital flight data recorder (DFDR) mencatat adanya stick shaker yang aktif hingga berlangsung selama penerbangan.

Ketika pesawat berada di ketinggian sekitar 400 kaki, PIC menyadari adanya warning IAS DISAGREE pada Primary Flight Display (PFD).

Kemudian PIC mengalihkan kendali pesawat udara kepada second in command (SIC) serta membandingkan penunjukkan pada PFD dengan instrumen standby dan menentukan bahwa PFID kiri yang bermasalah.

PIC mengetahui bahwa pesawat mengalami trimming aircraft nose down (AND) secara otomatis. PIC kemudian merubah tombol STAB TRIM ke CUT OUT. SIC melanjutkan penerbangan dengan trim manual dan tanpa auto-pilot sampai dengan mendarat.

PIC melakukan deklarasi "PAN PAN" karena mengalami kegagalan instrumen kepada petugas pemanduan lalu lintas penerbangan Denpasar dan meminta untuk melanjutkan arah terbang searah dengan landasan pacu.

PIC lantas melaksanakan tiga Non-Normal Checklist dan tidak satupun dari ketiga prosedur dimaksud memuat instruksi untuk melakukan pendaratan di bandar udara terdekat.

Namun pesawat bisa mendarat di Jakarta pada pukul 22.56 WIB atau setelah terbang selama 1 jam 36 menit.

Atas kajian itu, KNKT menilai pesawat Lion Air PK-LQP sudah tidak layak terbang saat menempuh rute dari Denpasar ke Jakarta.

Keesokan harinya, setelah diajukan pengecakan dan perbaikan, Lion Air PK-LQP terbang ke Pangkal Pinang. Naas, pesawat itu jatuh di perairan Karawang setelah 13 menit mengudara.

https://ekonomi.kompas.com/read/2018/11/29/124802526/lion-air-mungkin-kami-dianggap-perusahaan-yang-kampungan-kali-ya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Segera Daftar, PT Pegadaian Masih Buka Lowongan Kerja

Segera Daftar, PT Pegadaian Masih Buka Lowongan Kerja

Work Smart
IHSG Diproyeksi Tertekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

IHSG Diproyeksi Tertekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Whats New
Investor Asing Kembali Catat 'Net Buy', Ini Saham-saham yang Paling Diminati

Investor Asing Kembali Catat "Net Buy", Ini Saham-saham yang Paling Diminati

Earn Smart
Pesawat Susi Air Dibakar KKB, Lapangan Terbang Paro di Nduga Ditutup Sementara

Pesawat Susi Air Dibakar KKB, Lapangan Terbang Paro di Nduga Ditutup Sementara

Whats New
Gaji UMK atau UMR Lamongan 2023 Terbaru

Gaji UMK atau UMR Lamongan 2023 Terbaru

Work Smart
Saldo Kurang Saat Bayar Tol MLFF, Pengendara Diberikan Waktu 2 Jam untuk 'Top Up'

Saldo Kurang Saat Bayar Tol MLFF, Pengendara Diberikan Waktu 2 Jam untuk "Top Up"

Whats New
Info Gaji UMK atau UMR Banyuwangi Tahun 2023 Terbaru

Info Gaji UMK atau UMR Banyuwangi Tahun 2023 Terbaru

Work Smart
Bandingkan Defisit APBN RI dengan Negara Maju, Kemenkeu: Cukup Baik

Bandingkan Defisit APBN RI dengan Negara Maju, Kemenkeu: Cukup Baik

Whats New
Mendag Bikin Aturan: Beli MinyaKita Maksimal 10 Liter, Harus Pakai KTP

Mendag Bikin Aturan: Beli MinyaKita Maksimal 10 Liter, Harus Pakai KTP

Whats New
Pembangunan Dilanjutkan, LRT Jakarta Akan Terhubung ke Manggarai, MRT Bakal sampai Bekasi

Pembangunan Dilanjutkan, LRT Jakarta Akan Terhubung ke Manggarai, MRT Bakal sampai Bekasi

Whats New
Menhub: LRT Velodrome-Manggarai Ditargetkan Rampung di September 2024

Menhub: LRT Velodrome-Manggarai Ditargetkan Rampung di September 2024

Whats New
3 Strategi Kemenperin Kejar Target Transaksi Belanja Produk Dalam Negeri Rp 250 Triliun

3 Strategi Kemenperin Kejar Target Transaksi Belanja Produk Dalam Negeri Rp 250 Triliun

Rilis
KLHK Luncurkan Amdalnet untuk Permudah Perizinan Lingkungan

KLHK Luncurkan Amdalnet untuk Permudah Perizinan Lingkungan

Whats New
Bappenas: Pertumbuhan Ekonomi Tak Berbanding Lurus dengan Penurunan Kemiskinan karena Disrupsi Pekerjaan Pasca Pandemi

Bappenas: Pertumbuhan Ekonomi Tak Berbanding Lurus dengan Penurunan Kemiskinan karena Disrupsi Pekerjaan Pasca Pandemi

Whats New
Kemenhub Alokasikan Anggaran Rp 774 Miliar untuk Subsidi Angkutan Perintis 2023

Kemenhub Alokasikan Anggaran Rp 774 Miliar untuk Subsidi Angkutan Perintis 2023

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+