Terbebani Bunga Utang, Menkeu Ingatkan Risiko Gagal Bayar PLN

Kompas.com - 27/09/2017, 13:51 WIB
Ilustrasi: Karyawan PT PLN sedang memperbaiki jaringan listrik di Nunukan. KOMPAS.com/SUKOCOIlustrasi: Karyawan PT PLN sedang memperbaiki jaringan listrik di Nunukan.
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Proyek kelistrikan 35.000 megawatt (MW) terancam dikaji ulang. Sepucuk surat Menteri Keuangan Sri Mulyani kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Menteri BUMN (19/9) menyebut, ada risiko keuangan negara atas penugasan infrastruktur ketenagalistrikkan.

Mengutip Kontan, Rabu (27/9/2017), dalam suratnya tertanggal 19 September 2017, Menkeu menyatakan perlu ada penyesuaian target program 35..000 MW dengan mempertimbangkan ketidakmampuan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memenuhi pendanaan investasi dari cashflow operasi.

Kondisi keuangan PLN terus turun, seiring kian besarnya kewajiban untuk memenuhi pembayaran pokok dan bunga pinjaman yang tak didukung pertumbuhan kas bersih operasi.

Selain itu, pendanaan internal PLN juga terbatas untuk melakukan investasi dalam rangka melaksanakan penugasan pemerintah. Mau tak mau, PLN harus menggantungkan harapan pada pinjaman pihak lain.

Di sisi lain, pertumbuhan penjualan listrik PLN tak sesuai target.

"Ini juga karena adanya kebijakan pemerintah meniadakan kenaikan tarif tenaga listrik (TTL), dan dapat berpotensi meningkatkan risiko gagal bayar PLN," tegas Menkeu dalam suratnya.

Untuk itu, Ani minta Menteri ESDM dan Menteri BUMN mendorong PLN melakukan efisiensi biaya operasi, terutama energi primer. Hal ini untuk mengantisipasi risiko gagal bayar di tahun-tahun mendatang. Energi primer adalah bahan bakar untuk listrik, termasuk batubara.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jurubicara Kementerian ESDM Dadan Kusdiana menerangkan, PLN sudah melakukan pengendalian atas parameter pertumbuhan penjualan listrik, volume penjualan dan bauran energi.

"Target tahun 2017, pangsa energi primer BBM pada pembangkit listrik hanya 4,66%," kata dia kepada Kontan, Selasa (19/9/2017).

Komponen perhitungan biaya pokok produksi BPP (allowable cost) dan non allowable cost (biaya yang tidak boleh dibebankan ke konsumen melalui tarif) mengacu Permenkeu No. 44/2017 dan diaudit oleh BPK.

"Regulasi agar bisnis ketenagalistrikan efisien dan harga yang wajar, Permen 49/2017, Permen 45/2017, Permen 50/2017, Permen 19/2017, Permen 24/2017," kata dia.

Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN I Made Suprateka bilang, risiko keuangan selalu ada di proyek-proyek kelistrikan. Apalagi, PLTU paling cepat 3 tahun-4 tahun baru beroperasi. "Belum menjadi listrik tapi sudah harus bayar bunga. Makanya dipilih investasi corporate financing yang paling murah," ujar Made.

 

Berita ini diambil dari kontan.co.id dengan judul: Sepucuk surat Sri Mulyani kepada ESDM

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.