Keuangan Inklusif, PT Pos Bangun Big Data Analytic - Kompas.com

Keuangan Inklusif, PT Pos Bangun Big Data Analytic

Kompas.com - 01/11/2017, 11:00 WIB
Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar membubuhkan tanda tangan pada sampul hari pertama World Stamp Day 2017. World Stamp Day yang digelar 3-7 Agustus 2017 itu digelar di Trans Studio Bandung. Menkominfo Rudiantara dan Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Gilarsi hadir dalam pembukaan acara pameran itu. Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar membubuhkan tanda tangan pada sampul hari pertama World Stamp Day 2017. World Stamp Day yang digelar 3-7 Agustus 2017 itu digelar di Trans Studio Bandung. Menkominfo Rudiantara dan Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Gilarsi hadir dalam pembukaan acara pameran itu.

BANDUNG, KOMPAS.com - Hingga kini, baru 36 persen masyarakat Indonesia yang memiliki akun bank. Sedangkan 64 persen masyarakat yang tinggal di pelosok belum tersentuh keuangan inklusif karena sulitnya akses ke perbankan.

"Padahal dilihat dari data kami banyak masyarakat terpencil yang banyak melakukan transaksi," ujar Direktur Utama PT Pos Indonesia, Gilarsi Wahyu Setijono kepada Kompas.com di Bandung, Selasa (31/10/2017).

Untuk membantu masyarakat di rural area tersebut, PT Pos tengah membangun big data analytic. Lewat big data analytic, Pos akan membuat kredit skoring yang nantinya bisa dikerjasamakan dengan perbankan untuk penyaluran pembiayaan.

Gilarsi menambahkan, kredit skoring yang dilakukan tidak melalui aktivitas perbankan. Melainkan aktivitas perekonomian mereka selama ini di lapangan. Mulai dari perputaran uang mereka hingga transaksi mereka sehari-hari.

(Baca: Pinjam.co.id Gandeng PT Pos Perluas Layanan Gadai)

"Kalau itu semua bisa dimasukkan dalam sebuah analytic proses, yang namanya kredit skor bukan hanya bisa dilakukan oleh bank, tapi Pos pun bisa melakukan. Akses terhadap funding, financial, bisa kita rekomendasikan," tuturnya.

Sebab, Pos punya infrastruktur hingga ke rural area. Namun Pos bukan lembaga keuangan yang bisa menyalurkan pembiayaan. "Karena itu kita akan menjembatani," ucap Gilarsi.

Saat ini, big data analytic Pos masih dibangun. Ia menargetkan, tahun depan sudah selesai. Untuk pengerjaannya, Pos membentuk divisi baru mengenai big data analytic.

"Datanya sudah ada, tapi memasukkannya ke analytic prosesnya butuh waktu," ungkapnya.

Selain itu, dalam rangka digitalisasi, Pos Indonesia mengeluarkan aplikasi "Digiroin" atau Digital Giro Indonesia. Aplikasi tersebut sudah bisa diperoleh di Appstore.


Aplikasi ini masih akan terus dikembangkan. Peluncuran resminya sendiri akan dilakukan tahun depan. "Aplikasi ini bisa menjangkau masyarakat yang tidak memiliki akun bank," katanya.

Lewat aplikasi ini, para TKI bisa mengirim dana ke Tanah Air dengan biaya yang murah. Jika selama ini, pengiriman dana TKI mendapat potongan 6-7 persen, dengan Digiroin hanya dipotong 2 persen.

Kompas TV Mendekati Lebaran, pengiriman uang via wesel dari Tenaga Kerja Indonesia melalui kantor pos meningkat pesat.

EditorAprillia Ika
Komentar
Close Ads X