KKP: Masih Ada Saja Kapal Asing Curi Ikan di Laut Indonesia

Kompas.com - 30/01/2018, 15:19 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat memimpin penenggelaman 33 kapal asing pencuri ikan di perairan Selat Lampa, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Minggu (29/10/2017). Di sela-sela kunjungan kerja dan memimpin penenggelaman kapal di Natuna, Menteri Susi melakukan piknik mendadak di Pantai Sindu, salah satu pantai berbatu raksasa di Pulau Ranai.KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWA Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat memimpin penenggelaman 33 kapal asing pencuri ikan di perairan Selat Lampa, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Minggu (29/10/2017). Di sela-sela kunjungan kerja dan memimpin penenggelaman kapal di Natuna, Menteri Susi melakukan piknik mendadak di Pantai Sindu, salah satu pantai berbatu raksasa di Pulau Ranai.

NATUNA, KOMPAS.com - Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan ( KKP), Sjarif Widjaja mengatakan, aktifitas kapal asing di perairan Indonesia mulai berkurang, tapi bukan berarti sudah tidak ada sama sekali.

"Masih ada, pasti masih ada, namanya orang cari makan kan, pasti mereka selalu berusaha barangkali kita lengah," katanya saat bincang dengan awak media, di Natuna, Selasa (30/1/2018).

Dia menilai tindakan menegakkan hukaman penenggelaman kapal dan membentuk satuan tugas 115, yang merupakan gabungan Polisi Air, Badan Keamanan Laut dan KKP, sudah tepat. Bahkan memberikan efek jera yang membuat pencuri ikan segan masuk ke perairan Indonesia.

Kendati demikian, masih ada saja kapal yang berusaha mencari celah masuk ke perairan Indonesia untuk mencuri ikan. Menurutnya, rata-rata kapal teesebut berasal dari negara tetangga, seperti Thailand dan Vietnam.

Baca juga : Cerita Nelayan Natuna soal Efek Penenggelaman Kapal oleh Menteri Susi

Mereka tetap nekat karena memang di negaranya sendiri sumber daya ikan sudah makin menipis karena banyaknya jumlah nelayan. Sedangkan orang-orang itu bertahan hidup dengan cara mencari ikan.

"Vietnam, Thailand dan yang lainnya itu kapalnya sudah berlebihan, sumber daya di sana sudah mulai habis, nelayannya banyak. Dia mau lari kemana kalau tidak ke tetangganya," ujar Sjarif.

Dia menambahkan, agar para pencuri ikan yang masih nekat itu tidak berani lagi masuk ke wilayah Indonesia, harus disiapkan tindakan pencegahan tambahan. Misalnya, dengan cara menyebarkan nelayan ke seluruh wilayah laut Indonesia.

Bila persebaran nelayan seperti itu benar-benar terwujud, harapannya, nelayan Tanah Air bisa menjadi mata yang melihat dan melaporkan keberadaan kapal asing. Jadi tidak cuma mengandalkan satuan tugas 115 dan Kapal Pengawas Perikanan.

Baca juga : Kapal Asing Tidak Ada, Kami Bisa Menangkap dan Mengumpulkan Ikan

"Kita tentu saja melihat perbatasan Indonesia ini besar, kalau kita mau memagari dengan kapal nasional itu tidak mudah," ujarnya.

"kita yang harus aktif, caranya dengan penuhi laut Indonesia dengan nelayan Indonesia, mana daerah yang padat seperti pantura sudahlah pindah ke tempat yang sepi seperti Natuna, di sinikan bagus potensinya," imbuhnya.

Sebelumnya, sejumlah nelayan dari Natuna, Kepulauan Riau, menceritakan bahwa aktivitas pencurian ikan oleh kapal asing semakin berkurang pasca penegakkan hukum terkait penenggelaman kapal. Walau demikian, masih ada sejumlah kapal yang ditemukan aktif di jarak 30 mil hingga 40 mil dari garis pantai.

Kompas TV Silang pendapat terjadi antara Luhut Binsar Panjaitan dan Susi Pudjiastuti terkait aksi penenggelaman kapal asing pencuri ikan.



EditorAprillia Ika


Close Ads X