Bulog Segera Rampungkan Penugasan Impor Beras

Kompas.com - 20/03/2018, 14:19 WIB
Pekerja mengangkut beras impor dari Thailand di gudang Bulog Divre Jatim, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (26/2/2018). Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan telah menerbitkan izin impor beras sebanyak 500.000 ton  kepada Perum Bulog dengan tujuan untuk menstabilkan harga. ANTARA FOTO/Umarul Faruq/ama/18Pekerja mengangkut beras impor dari Thailand di gudang Bulog Divre Jatim, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (26/2/2018). Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan telah menerbitkan izin impor beras sebanyak 500.000 ton kepada Perum Bulog dengan tujuan untuk menstabilkan harga.

JAKARTA, KOMPAS.com – Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) menyatakan segera menyelesaikan kewajiban importasi beras tahap dua sebanyak 219.000 ton hingga pertengahan tahun ini.

Direktur Utama Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan, jumlah tersebut merupakan sisa dari total kuota impor beras sebanyak 500.000 ton yang diputuskan pemerintah pada awal tahun.

"Negaranya tetap seperti yang lalu, seperti Vietnam, Thailand," kata Djarot di Kantor Pusat Perum Bulog, Jakarta, Selasa (20/3/2018).

Baca juga : Tingkatkan Akurasi Data Pangan, Bulog Gandeng Badan Pusat Statistik

Pada tahap pertama, importasi beras telah terlaksana sebanyak 261.000 ton dari Vietnam dan Thailand, dan baru masuk sebesar 10.000 ton dari India.

Kemudian, pada akhir bulan ini sebesar 10.000 ton dari India akan kembali masuk ke Indonesia, sehingga total impor beras tahap pertama sebanyak 281.000 ton.

Sedangkan pada tahap dua ini, Djarot menargetkan, total beras impor yang akan masuk hingga akhir Maret sebanyak 420.000 ton, dan sebanyak 80.000 ton akan masuk hingga batas akhir impor pada bulan Mei-Juni mendatang.

Sementara itu, dalam stabilisasi harga beras, Bulog akan terus melakukan intervensi pasar dengan menggelontorkan stok beras yang dimiliki Bulog, hingga saat ini Bulog memiliki stok beras sebanyak 600.000 ton. Terlebih, Presiden Joko Widodo telah menugaskan Bulog untuk terus melakukan Operasi Pasar (OP) guna menekan harga beras.

"Kami akan lepas dengan harga maksimal harga eceran tertinggi (HET). Segala daya yang ada di Bulog akan dimanfaatkan. Salah satunya (menggunakan) beras yang ada di Bulog baik dari dalam negeri maupun yang telah diimpor,” ungkap Djarot.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.