Inalum Minta Diskon 20 Persen "Participating Interest" Rio Tinto di Freeport

Kompas.com - 05/04/2018, 20:11 WIB
Areal tambang terbuka PT Freeport Indonesia di Grasberg, Timika, Papua, Kamis (24/11/2011). KOMPAS/B JOSIE SUSILO HARDIANTOAreal tambang terbuka PT Freeport Indonesia di Grasberg, Timika, Papua, Kamis (24/11/2011).

JAKARTA, KOMPAS.com - Jika tidak ada aral melintang, PT Indonesia Asahan Aluminium ( Inalum) akan melaporkan hasil negosiasi pembelian participating interest (PI) 40 persen milik Rio Tinto di tambang Grasberg, Papua, kepada Menteri BUMN, Menteri Keuangan dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada Jumat (6/5/2018), besok.

Laporan tersebut merupakan hasil penawaran Inalum terhadap Rio Tinto. Dari hasil valuasi harga yang sudah dilakukan tim negosiasi, Inalum meminta diskon kepada Rio Tinto dengan skema hitungan cash out flow discount sebanyak 20 persen.

Seperti diketahui, Deutsche Bank pernah melakukan valuasi harga dari participating interest 40 persen itu mencapai 3,3 miliar dollar AS.

Mengutip Kontan.co.id, Kamis (5/4/2018) dari harga 3,3 miliar dollar AS itu, Inalum meminta diskon 20 persen. Sehingga, harga yang ditawarkan oleh Inalum mencapai 2,65 miliar dollar AS.

Diskon 20 persen itu muncul atas biaya untuk membayar kerugian negara sebesar Rp 185 triliun akibat kerusakan ekosistim dan utang tunggakan pajak kepada Pemerintah Daerah Provinsi Papua.

"Tawaran yang akan diberikan sekitar 2,65 miliar dollar AS dengan asumsi diskon 20 persen untuk pembayaran biaya kerusakan ekosistem dan tunggakan utang pajak," terang sumber tersebut kepada Kontan.co.id.

Asal tahu saja, harga yang sudah dievaluasi berdasarkan diskon 20 persen senilai 2,65 miliar dollar AS itu juga berdasarkan hitungan dengan operasi tambang milik PT Freeport Indonesia (PTFI) sampai tahun 2041. Ia menduga, dengan diskon itu pihak Rio Tinto dengan terpaksa akan menyepakati.

Alasannya, karena menginginkan pengembalian uang yang sudah ditanamkan di Freeport Indonesia dengan cepat.

Sebagaimana diketahui, sejak tahun 1995, Rio Tinto hampir tidak pernah memperoleh bagian produksi Freeport Indonesia, lantaran volume produksi tidak pernah mencapai level yang ditetapkan yang seperti disepakati. "Karena Rio Tinto selama ini merasa dikadali oleh Freeport Indonesia," jelasnya.

Seperti diketahui dalam menghitung valuasi harga participating interest 40 persen Rio Tinto, Inalum memakai Morgan Stanley, PricewaterhouseCoopers (PWC) dan Dana Reksa. Sementara itu pinjaman dana untuk pengambilan Participating Interest itu akan diperoleh dari Bank asal Jepang, Amerika dan bank Nasional.

Halaman:
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Sumber
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X