Kompas.com - 02/05/2018, 15:00 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com
—Per Maret 2018, investasi untuk sektor minyak dan gas (migas) yang masuk ke Indonesia tercatat 2,4 miliar dollar AS, setara sekitar Rp 33 triliun.

"Realisasi investasi per Maret 2018 tersebut sekitar 14 persen dari target investasi migas pada 2018," kata Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi, Rabu (2/5/2018).

Berbicara dalam Konvensi dan Pameran IPA 2018, Amien menyebut target investasi migas Indonesia pada 2018 adalah 14,2 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 200 triliun.

Baca juga: Tanpa Suap, Investor Bakal Lebih Berminat Berinvestasi di Hulu Migas

Bagi sektor migas Indonesia, investasi sangat diperlukan untuk mendongkrak angka produksi yang terus menurun. Investasi diperlukan untuk mendapatkan cadangan baru migas. Hingga setidaknya 2050 migas masih akan menjadi penopang utama kebutuhan energi Indonesia.

"Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2017 menetapkan target porsi migas pada 2050 adalah 44 persen dari total energi nasional," kata Presiden Indonesian Potreleum Association (IPA) Ronald Gunawan dalam pidato pembukaan Konvensi dan Pameran IPA 2018, Rabu.

Selain investasi untuk mendapatkan cadangan baru migas, lanjut Ronald, investasi juga diperlukan untuk mendanai enhanced oil recovery (EOR). EOR adalah metode pengurasan sumur memakai air, gas, atau bahan kimia, untuk mempertahankan laju produksi minyak.

Produksi Minyak dan Gas (Migas) Indonesia per 28 Februari 2018Dok SKK Migas Produksi Minyak dan Gas (Migas) Indonesia per 28 Februari 2018

Berdasarkan data RUEN di atas, kata Ronald, migas masih akan menjadi tulang punggung energi nasional pada kurun 20-30 tahun ke depan.

Terkait upaya menarik investor di sektor migas, Ronald menyebut pemerintah telah melakukan sejumlah penyelarasan kebijakan. Bentuknya mulai dari revisi aturan yang telah ada, menerbitkan aturan baru, hingga memangkas aturan yang dianggap menghambat operasional.

Baca juga: Efisiensi Pemeriksaan Kontraktor, Ditjen Pajak Gandeng BPKP dan SKK Migas

"Kami mengharap agar perbaikan iklim investasi migas di Indonesia terus dilanjutkan sehingga dapat meningkatkan jumlah serta mempercepat proyek-proyek migas untuk berproduksi," ujar Ronald.

Lebih lanjut Ronald menjelaskan, Indonesia saat ini juga telah menghadapi tantangan sebagai net importer minyak bumi sejak 2002. Dengan terus menurunnya produksi migas nasional, diperkirakan Indonesia juga bakal menjadi net importer gas pada 2022.

Amien menambahkan, peningkatan daya saing industri hulu migas di Indonesia butuh komunikasi dan kerja keras dari seluruh pemangku kepentingan.

Baca juga: SKK Migas Terapkan Standar Anti-Suap IS0 37001:2016

"Kami yakin industri migas akan tetap ada di Indonesia karena permintaan global yang terus meningkat. Industri menghadapi tantangan yang memaksa kita semua untuk menjadi kreatif dan inovatif dalam melakukan efisiensi untuk meningkatkan daya saing," ujar Amien.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.