Proyeksi Kurs 2019 di Level Rp 13.700-Rp 14.000, Pelemahan Rupiah Berlanjut? - Kompas.com

Proyeksi Kurs 2019 di Level Rp 13.700-Rp 14.000, Pelemahan Rupiah Berlanjut?

Kompas.com - 18/05/2018, 14:58 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat pidato mengenai kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal tahun 2019 di ruang rapat paripurna Nusantara II DPR, Jakarta Pusat, Jumat (18/5/2018).KOMPAS.com/ANDRI DONNAL PUTERA Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat pidato mengenai kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal tahun 2019 di ruang rapat paripurna Nusantara II DPR, Jakarta Pusat, Jumat (18/5/2018).


JAKARTA, KOMPAS.com
—Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut, proyeksi rata-rata nilai tukar rupiah pada 2019 berada di kisaran Rp 13.700-Rp 14.000 per dollar AS. Apakah berarti tren pelemahan rupiah bakal berlanjut?

"Tidak selalu begitu. Hal yang kami lihat adalah komparasi yang membuat posisi ekonomi kita dan rupiah kita terus bisa kompetitif hingga masyarakat dan dunia usaha bisa tetap beraktivitas dan melakukan adjustment," kata Sri Mulyani di gedung DPR, Jakarta Pusat, Jumat (18/5/2018).

Proyeksi nilai tukar tersebut merupakan salah satu bagian dari kerangka ekonomi makro serta pokok kebijakan fiskal 2019 yang disampaikan Sri Mulyani dalam Rapat Paripurna DPR, Jumat.

Adapun kurs rupiah di pasar spot pada Jumat hingga selepas jeda makan masih bertengger di level Rp 14.135 per dollar AS, sementara di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) posisi kurs adalah Rp 14.107 per dollar AS.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 14.100, Apa Komentar Sri Mulyani?

Menurut Sri Mulyani, dampak penguatan dollar AS yang berimbas pada pelemahan mata uang di negara lain terjadi akibat arah normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat yang mendorong kenaikan suku bunga Fed Fund Rate. Karenanya, perkiraan nilai tukar yang ditetapkan tidak lepas dari realita yang ada saat ini.

Ilustrasi rupiah dan dollar ASTHINKSTOCKS Ilustrasi rupiah dan dollar AS

Sri Mulyani menambahkan, meski nilai tukar ada pada kisaran Rp 13.700-14.000, hal lain yang lebih penting untuk dijaga adalah inflasi. Jika inflasi terjaga pada kisaran 3,5 persen plus minus 1 persen, kata dia, depresiasi pada level yang ada saat ini dinilai masih bisa diterima oleh masyarakat serta dunia usaha.

"Kalau inflasi kita tetap terjaga di kisaran 3,5 persen plus minus 1 persen sementara di Amerika sekitar 2 persen, maka depresiasi pada level 3 persen seperti saat ini masih bisa diterima. Artinya, memang sesuai dengan komparasi mata uang antara kita dengan Amerika Serikat," tutur Sri Mulyani.

Nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp 13.900 sampai Rp 14.000 sejak Senin (14/5/2018) hingga Jumat (18/5/2018) ini, di mana didominasi pada level Rp 14.000.

Baca juga: Sri Mulyani: 2019, Pertumbuhan Ekonomi 5,4-5,8 Persen, Kurs Rupiah Rp 13.700-Rp 14.000

Pada pekan sebelumnya, rupiah juga sudah melewati Rp 14.000 per dollar AS, kecuali pada akhir perdagangan Jumat (11/5/2018) yang sempat rebound tipis ke bawah Rp 14.000 per dollar AS.

Untuk Jisdor, sejak Selasa (15/5/2018) nilai tukar rupiah terhadap dollar AS telah menyentuh level Rp 14.020 setelah sempat terapresiasi tipis pada Senin, yaitu Rp 13.976. Level terendah didapati pada Jumat ini, yaitu Rp 14.107 per dollar AS.

Sementara itu, angka inflasi tahunan untuk indeks harga konsumen (IHK) per akhir April 2018 tercatat 3,41 persen. Pada 2018, inflasi diharapkan di kisaran 3,5 persen.

Dok Kementerian Keuangan Asumsi Makro 2018



Close Ads X