Kiat Subarkat Mendulang Rupiah dengan Berkebun di Tanah Orang - Kompas.com

Kiat Subarkat Mendulang Rupiah dengan Berkebun di Tanah Orang

Kompas.com - 26/05/2018, 19:51 WIB
Subarkat saat menyiangi lahan yang dikelolanya di Jalan Padat Karya Selindung, Pangkal Pinang.KOMPAS.com/HERU DAHNUR Subarkat saat menyiangi lahan yang dikelolanya di Jalan Padat Karya Selindung, Pangkal Pinang.

PANGKAL PINANG, KOMPAS.com - Pesatnya pembangunan permukiman bagi warga perkotaan membuat lahan untuk bercocok tanam kian terbatas.

Subarkat (64), di usianya yang tak lagi muda, menyiasati keterbatasan lahan di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung dengan memanfaatkan kaplingan tanah yang belum dibangun untuk berkebun semangka.

Lahan seluas dua hektare di Jalan Padat Karya, Kelurahan Selindung menjadi tumpuan harapan untuk mendatangkan penghasilan.

Subarkat beruntung, karena pemilik lahan memberinya kesempatan untuk berkebun secara cuma-cuma.

Bapak tiga anak ini, mengaku telah mengolah lahan sejak lima tahun terakhir. Usahanya berkebun, seakan berpacu dengan derasnya pembangunan perumahan di sekitar kawasan itu.

Ada belasan atau bahkan puluhan pengembang membangun komplek perumahan berbagai tipe.

Baca juga: Bercocok Tanam dan Berbagi ala Petani Rusunawa Marunda

 

Sesuai tata ruang kota Pangkal Pinang, kawasan Selindung yang terhubung dengan daerah Kampak memang dijadikan sebagai pusat permukiman.

Bagi Subarkat sendiri, di usia yang melewati setengah abad tak menyurutkan niat untuk bercocok tanam, dia berkeinginan untuk berkebun hingga akhir hayatnya.

“Seandainya suatu saat lahan akan didirikan bangunan oleh pemiliknya saya akan mencari tanah kosong di luar kota untuk melanjutkan usaha berkebun,” kata Subarkat saat berbincang dengan Kompas.com, Jumat (25/5/2018).

Dari usaha berkebun, Subarkat bisa memenuhi ekonomi keluarganya yang hidup sederhana. Bahkan satu anaknya ikut membantu di kebun, dan ikut menikmati hasilnya.

"Prinsip saya jangan banyak mengeluh tak ada pekerjaan. Masih banyak tempat yang bisa dimanfaatkan," ujar Subarkat yang juga menganut sistem tumpang sari.

Warga sekitar berdatangan untuk membeli semangka segar yang dipetik langsung dari kebun.KOMPAS.com/HERU DAHNUR Warga sekitar berdatangan untuk membeli semangka segar yang dipetik langsung dari kebun.

Selain dominan bertanam semangka, juga ada jagung dan pepaya. Seiring datangnya bulan puasa, buah semangka mulai memasuki masa panen. Warga sekitar pun berdatangan untuk membeli.

Warga tertarik untuk membeli, selain harganya yang murah, juga karena kualitas buah segar yang baru dipetik dari kebun.

“Kami biasa beli di sini. Untuk es buah, pakai buah segar,” kata seorang warga, Rosmiati.

Subarkat menjadi potret petani yang tidak memiliki lahan sendiri, namun terus bertahan di tengah gencarnya alih fungsi lahan di Tanah Air.

Kompas TV Beberapa pohon kurma sudah berbuah dan diprediksi akan semakin banyak.



Close Ads X