Konvergensi TI/TO, Transformasi Digital dalam Industri Manufaktur

Kompas.com - 02/07/2018, 11:41 WIB
Ilustrasi transformasi digital THINKSTOCKS/OLIVIER LE MOALIlustrasi transformasi digital

TRANSFORMASI digital dalam bisnis sudah tidak bisa dihindari lagi. Setiap sektor industri saat ini sedang mengalami proses transformasi digital dan menyaksikan secara langsung kesempatan-kesempatan yang terbuka akibat transformasi digital.

Korporasi-korporasi di Asia Tenggara pun siap menjadi penerima-penerima manfaat terbesar. Digitalisasi memungkinkan mereka untuk lebih produktif, mengurangi biaya operasional, dan mengembangkan bisnis mereka secara lebih efektif.

Beberapa waktu yang lalu, kami mendapatkan kehormatan untuk menerima Darmin Nasution (Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia), Airlangga Hartarto (Menteri Perindustrian) dan beberapa CEO Indonesia, di booth Cisco pada Indonesia Industrial Summit (IIS) 2018 di Jakarta.

Perhelatan IIS tahun ini melihat secara mendalam penerapan Industri 4.0 di Indonesia sebagai bagian dari Transformasi Lanskap Industri Nasional.

Baca juga: 57 Persen Pekerjaan Sekarang akan Tergerus Revolusi Industri 4.0

Perusahaan konsultan manajemen global, AT Kearney, memberikan masukan kepada Pemerintah Indonesia tentang inisiatif besar ini. Penekanannya, Making Indonesia 4.0 mendatangkan suatu potensi yang sangat besar bagi Indonesia untuk melipatgandakan rasio perbandingan antara produktivitas dan biaya produksi (productivity-to-cost) sehingga meningkatkan daya saing global dan mendorong pangsa pasar ekspor global.

Ekspor yang lebih besar akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja sehingga mendorong Indonesia untuk menyerap pasokan  tenaga yang terus meningkat, sehingga, memperkuat konsumsi domestik, dan akhirnya menjadi salah satu dari 10 negara dengan ekonomi teratas dunia.

Pengaturan ulang manufaktur

Sektor manufaktur di Indonesia akan memainkan peran yang penting. Kontribusi sektor ini terhadap PDB Indonesia menurun dari 26 persen pada 2001 menjadi 22 persen pada 2016. Saat ini Indonesia sedang berusaha untuk mengembalikan posisi tersebut.

Namun, Indonesia bukan satu-satunya negara yang ingin meningkatkan kondisi sektor manufaktur. India telah meluncurkan inisiatif “Make in India”.

Jerman juga telah meluncurkan inisiatifnya sendiri INDUSTRIE 4.0 yang "menghubungkan teknologi-teknologi produksi sistem tertanam (embedded system production) dengan proses-proses produksi cerdas (smart production processes) untuk membuka jalan menuju era teknologi baru".

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X