Siapa Pemenang dan Pecundang Krisis Keuangan Turki?

Kompas.com - 16/08/2018, 16:37 WIB
Warga menukarkan uang di kantor penukaran uang di Istanbul, Turki, 8 Agustus 2018. Dirundung krisis ekonomi, nilai tukar mata uang Turki lira merosot tajam. Hingga Jumat (10/8/2018) lalu, posisi lira anjlok 15,88 persen ke level 6,4323 per dollar Amerika Serikat (AS). AFP PHOTO/YASIN AKGULWarga menukarkan uang di kantor penukaran uang di Istanbul, Turki, 8 Agustus 2018. Dirundung krisis ekonomi, nilai tukar mata uang Turki lira merosot tajam. Hingga Jumat (10/8/2018) lalu, posisi lira anjlok 15,88 persen ke level 6,4323 per dollar Amerika Serikat (AS).

NEW YORK, KOMPAS.com - Anjloknya mata uang lira Turki dalam beberapa hari terakhir telah menggoyang pasar keuangan global.

Meskipun demikian, para pakar tak mengekspektasikan apa yang terjadi di Turki menyebabkan krisis keuangan. Mereka menyebut, Turki menyumbang sekitar 1 persen pada perekonomian dunia dan eksposur global terhadap sektor perbankan Turki juga sangat kecil.

"Jumlahnya tidak terlalu mengkhawatirkan bagi saya, namun saya rasa lebih kepada sentimen," kata Sat Duhra, manajer portfolio di Janus Henderson Investors seperti dikutip dari CNBC, Kamis (16/8/2018).
 
Duhra mengungkapkan, perkembangan di Turki telah memicu ketegangan lebih besar pada saat yang sama ketika investor telah ketar-ketir karena meningkatnya ketegangan perdagangan, kenaikan suku bunga AS, dan outlook ekonomi China yang melambat.
 
Lalu, siapa sebenarnya pemenang dan pecundang dalam krisis keuangan yang terjadi di Turki?
 
Pecundang

Dalam gejolak yang terjadi di Turki, yang terkena imbas adalah negara-negara berkembang dan perbankan. Investor telah ramai-ramai menarik dana dari negara-negara berkembang lantaran khawatir negara-negara itu akan mengikuti jejak Turki.
 
Akibatnya, mata uang negara-negara berkembang ikut anjlok menyusul merosotnya lira Turki.
 
"Krisis di Turki meningkatkan kekhawatiran terhadap negara-negara berkembang yang lebih rentan dan memiliki defisit transaksi berjalan seperti Turki, contohnya Brazil, Afrika Selatan, dan Argentina," tulis Wells Fargo Investment Institute dalam laporannya.
 
Adapun dari sisi perbankan, meski memiliki eksposur terbatas terhadap sistem keuangan Turki, saham perbankan di AS, Eropa, dan Jepang terpukul kondisi di Turki. Beberapa bank Eropa seperti BBVA dari Spanyol dan UniCredit dari Italia memiliki unit di Turki, tak bisa dielakkan saham mereka anjlok.
 
Investor pun khawatir lemahnya perbankan Turki akan berdampak pada bank-bank asing yang memiliki aset di negara tersebut.

Pemenang

Yang diuntungkan dengan krisis di Turki adalah dollar AS dan hubungan Turki-Uni Eropa. Sejalan dengan investor yang mencari safe haven atau tempat aman untuk menempatkan dana mereka, aset AS menguat didukung kuatnya ekonomi AS dan suku bunga yang lebih tinggi.

Penguatan dollar AS hanya akan menambah masalah yang dihadapi Turki dan negara-negara berkembang lainnya, kata David Dietze, presiden Point View Wealth Management.

Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden AS Donald Trump berseteru soal penerapan tarif dan penahanan seorang pastor AS bernama Andrew Brunson. Ini membuka kesempatan rekatnya hubungan antrara Turki dengan negara-negara Uni Eropa, menurut laporan Eurasia Group.

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber CNBC
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X