Tekan Impor, Pemerintah Dorong Penggunaan B20

Kompas.com - 24/08/2018, 15:10 WIB
Konferensi pers Direktur Jendral (Dirjen) Mineral dan Batubara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot Ariyono di Kantor Pusat Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (11/1/2018). KOMPAS.com/ PRAMDIA ARHANDO JULIANTOKonferensi pers Direktur Jendral (Dirjen) Mineral dan Batubara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot Ariyono di Kantor Pusat Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (11/1/2018).

MANADO, KOMPAS.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mendorong industri pertambangan untuk menggunakan Biodiesel 20 persen ( B20) sebagai bahan baku.

Menurut Dirjen Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono, penggunaan B20 yang diproduksi di dalam negeri akan menekan angka impor yang didominasi oleh bahan baku.

" Impor bahan bakar akan berkurang sehingga bisa membantu supaya terhadap dollar AS tidak melemah lagi," ujar Bambang di Manado, Kamis (23/8/2018).

Bambang mengakui bahwa penggunaan B20 memerlukan biaya pemeliharaan yang lebih tinggi. Namun, B20 akan lebih banyak menyerap produk nabati di dalam negeri sehingga berpengaruh pada neraca perdagangan yang selama ini kebanyakan defisit.

Baca juga: PLN Siap Beli 2,2 Juta Kiloliter B20

Apalagi, harga komoditas saat ini membaik sehingga Bambang yakin industri pertambangan masih mampu mrnggunakan biodiesel.

"Memang cost-nya naik sedikit. Saya kira naik sedikit tidak apa-apa untuk negara," kata Bambang.

Bambang mengatakan, fluktuasi nilai rupiah terhadap dollar AS terjadi karena tingginya angka impor. Oleh karena itu, ke depan harus diuoayakan bagaimana mrningkatkan penyerapan produksi di dalam negeri. Pemerintah mulai mrnginventarisir komoditas impor, mana yang sebenarnya bisa diproduksi di dalam negeri, dan mana yang mendesak untuk diimpor.

"Kalau benar-benar tidak ada (di dalam negeri), baru kita setujui," kata Bambang.

Bambang juga meminta Kementerian Perindustrian untuk memastikan betul bahwa komoditas yang akan dipakai sebagai bahan baku dalam negeri itu memenuhi syarat kualitas, kuantitas, dan harga terjangkau.

"Tolong industri seperti ini disediakan kualitas dan kuantitas yang memadai. Jangan sampai dia beli di dalam negeri lebih mahal daripada impor," kata dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Meningkat di Tengah Pandemi, Kekayaan Global Tembus 400 Triliun Dollar AS

Meningkat di Tengah Pandemi, Kekayaan Global Tembus 400 Triliun Dollar AS

Whats New
Simak Saham-saham yang Bisa Dilirik Tahun 2021

Simak Saham-saham yang Bisa Dilirik Tahun 2021

Earn Smart
2 Dirut BUMN PT PAL Berturut-turut Tersandung Korupsi

2 Dirut BUMN PT PAL Berturut-turut Tersandung Korupsi

Whats New
Ini 3 Masalah Utama yang Harus Diselesaikan agar UMKM Bisa Naik Kelas

Ini 3 Masalah Utama yang Harus Diselesaikan agar UMKM Bisa Naik Kelas

Smartpreneur
Sudah Lewat Masa Kritis, Realisasi Investasi Kuartal III Sentuh Rp 209 Triliun

Sudah Lewat Masa Kritis, Realisasi Investasi Kuartal III Sentuh Rp 209 Triliun

Whats New
Presiden Ingin Ada Solusi atas Kelambanan Pengembangan Industri Turunan Batu Bara

Presiden Ingin Ada Solusi atas Kelambanan Pengembangan Industri Turunan Batu Bara

Whats New
Sri Mulyani: Dari Rp 120,6 Triliun, Realisasi Insentif Pajak di Bawah Rp 30 Triliun

Sri Mulyani: Dari Rp 120,6 Triliun, Realisasi Insentif Pajak di Bawah Rp 30 Triliun

Whats New
Robert Kuok, Bos Hotel Shangri-La yang Jadi Orang Terkaya di Malaysia

Robert Kuok, Bos Hotel Shangri-La yang Jadi Orang Terkaya di Malaysia

Whats New
Skandal Korupsi 1MDB, Inggris Denda Goldman Sachs Rp 1,86 Triliun

Skandal Korupsi 1MDB, Inggris Denda Goldman Sachs Rp 1,86 Triliun

Whats New
Kelistrikan Sulbar dan Sulteng Tersambung, PLN Hemat Rp 137,8 Miliar

Kelistrikan Sulbar dan Sulteng Tersambung, PLN Hemat Rp 137,8 Miliar

Whats New
Sistem Kelistrikan Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah Akhirnya Tersambung

Sistem Kelistrikan Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah Akhirnya Tersambung

Whats New
Airport Tax Dihapus, AP II: Harga Tiket Pesawat Bisa Lebih Murah

Airport Tax Dihapus, AP II: Harga Tiket Pesawat Bisa Lebih Murah

Whats New
Kolaborasi Lintas Sektoral, Kunci Memaksimalkan Manfaat Kartu Prakerja

Kolaborasi Lintas Sektoral, Kunci Memaksimalkan Manfaat Kartu Prakerja

BrandzView
Pemerintah Wajibkan Kementerian dan Lembaga Belanja Produk UMKM

Pemerintah Wajibkan Kementerian dan Lembaga Belanja Produk UMKM

Whats New
Mau Tukar Valas? Intip Kurs Rupiah Hari Ini di 5 Bank

Mau Tukar Valas? Intip Kurs Rupiah Hari Ini di 5 Bank

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X